make
every second
count
titish!

recently
Proofreading
Foucault's Pendulum
Umberto Eco
Reading
Best Kept Secrets
Sandra Brown
Receiving
Pasar Apung
from: Indonesia
Sending
Laugh Out Loud Each Day
to: Taiwan
Watching
Paranormal Activity
foot prints

paste html code

chatter box


Titish's bookshelf: read

Detektif Conan Vol. 62
Hai Miiko! 22
Filsafat Dunia Matematika: Pengantar untuk Memahami Konsep-konsep Matematika
Rp 2 Jutaan Keliling Vietnam dalam 15 Hari
SuperMiring Family
Mengenal Masyarakat Belanda
Panduan Hemat Keliling Australia
malu bertanya (bisa) sesat pikiran
The Joy Luck Club; Perkumpulan Kebahagiaan dan Keberuntungan
Eurotrip: 15 Hari Jelajahi 5 Negara 9 Kota
Secret Princess
Panduan Hemat: Keliling Amsterdam, Brussel, Paris, Luxemburg & Trier
Detektif Conan Vol. 61
The Unbearable Lightness of Being
Manusia Ulang-Alik: Biografi Umar Kayam
Detektif Conan Spesial Vol. 35
Kota Antah Berantah
Rp2 Juta Keliling Thailand, Malaysia, & Singapura
Lukisan Hujan
Detektif Conan Vol. 60


Titish AK's favorite books »
}
Friday, August 05, 2011 @ 10:10 AM
Beneluxlaan
Saya semacam witing tresna jalaran saka kulina dengan asrama saya di sini. Hari pertama saya tiba di sini, beuhh.... udah bauk (pake k), jorok, dekil, jauh dari kampus lagi! Rasanya kok seperti dibohongi oleh gambaran luar negeri di tivi-tivi yang terkesan bersih dan semerbak mewangi. Bahkan ada teman sekelas saya, yang SUDAH MEMBAYAR untuk asrama ini, memutuskan untuk pindah dan tinggal bersama temannya di tempat lain. Tapi, saya pikir, okelah, saya juga bukannya lagi liburan dan menetap di hotel kok. Pengurus gedung tentunya menganggap kami para pelajar yang udah gedhe dan mandiri, udah ngerti caranya bersih-bersih dan bertanggung jawab bersama untuk itu. Toh hari kedua sepulang dari kampus... tadaaa... fasilitas bersama seperti kamar mandi dan dapur mendadak lebih kinclong dan kami tinggal ngurusin kamar masing-masing. 

Masalah bauk-jorok-dekil sudah teratasi. Masalah jauh? Sepertinya ini sudah tidak bisa diapa-apain lagi. Sebagai peserta Utrecht Summer School (USS), mau ditempatkan di asrama mana memang sepenuhnya ditentukan oleh takdir. Pengen dapat asrama yang bisa dicapai dengan jalan kaki dari kampus? You have to be very lucky! Pada awalnya saya pikir masalah jarak ini relatif. Idealnya saya memang harus naik trem dari asrama ke kampus vice versa, tapi itu cuma sebentar sekali. Jadi kok kayaknya asrama saya nggak jauh amat-amat ya, apalagi ketika saya mendapati fakta bahwa:

(1) Kampus letaknya tidak jauh dari Dom Tower.
(2) Dari jendela kamar saya bisa melihat Dom Tower.

Dom Tower kelihatan = dekat (???)

Dengan mempertimbangkan silogisme di atas, pada hari kedua saya tergoda untuk berjalan kaki dari kampus ke asrama sendirian. Pikir saya waktu itu, saya bisa sekalian meresapi kehidupan warga lokal dari dekat, menghemat ongkos transportasi, dan terhindar dari menaiki trem setiap hari sepertinya cukup menyenangkan. Saya melupakan fakta bahwa:

(1) Trem punya jalur sendiri dan jalannya sangat cepat.
(2) Saya bisa melihat matahari, tapi tidak berarti matahari itu dekat.

Walhasil saya nyasar di perumahan yang sepi entah di mana. Beneluxlaan, lokasi asrama saya, bahkan tidak tercantum jelas di peta yang saya tenteng-tenteng sore itu (Argh, accio smartphone!). Kalau dihitung, total ada sepuluh orang yang saya tanyai. Orang pertama yang saya tanyai tidak bisa bahasa Inggris sama sekali yang kemudian mengoper saya kepada orang kedua yang juga tidak bisa. (Apa kabar artikel saya tentang orang Belanda yang multilingual? Haha) Orang kedua mengoper saya kepada orang ketiga yang agak terbata-bata menjelaskan bahwa sebenarnya saya sudah dekat, tetapi jembatan ke arah Beneluxlaan ditutup selama sebulan sehingga saya harus memutar cukup jauh. Orang keempat, kelima, dan keenam tidak tahu di mana itu Beneluxlaan. Orang ketujuh rupanya mabuk dan menjawab dengan racauan bahasa Belanda. Orang kedelapan dan kesembilan menjawab 'kayaknya di sana'. Saya sampai cerita kepada orang kesembilan kalau dari kamar saya bisa melihat gedung yang ada tulisannya MAX, tapi dia cuma bilang 'I have no idea'. Orang kesepuluh menggeleng-gelengkan kepala, tapi sangat berbaik hati mencarikan di mana Beneluxlaan melalui smartphone-nya. Setelah orang kesepuluh ini, saya merasa kayaknya saya sudah cukup dekat dengan Beneluxlaan. Dan sampailah saya di sebuah taman yang rasanya pernah saya lihat dari dalam trem: Park Transwijk.

Bebek-bebek lucu

Untuk meredakan frustrasi, saya beristirahat di bangku taman dan menonton bebek-bebek lucu di situ. Ketika saya berdiri dan berniat melanjutkan perjalanan, bebek-bebek itu mengejar-ngejar saya secara berjamaah. Oke, kata 'lucu' tadi saya ralat.

Di sini pun bebek terdidik untuk bersikap asertif!

Setelah berjalan lima menit lagi, terharu sekali rasanya ketika saya melihat bangunan ini:

Beneluxlaan 924 A

Arggghh, akhirnya sampai juga saya di kamar tepat pukul enam, padahal kelas sore itu selesai pukul tiga.


Dengan ini saya tidak akan pulang berjalan kaki lagi.

***
fasilitas kamar yang cukup lengkap

shared bathroom

... dan pintunya

shared kitchen

... dan pintunya -_-"

lift unyu

the one & only internet room

Dan sekarang alhamdulillah saya sudah betah :)

Labels:

10 attention(s)
monthly archive

December 2006 January 2007 February 2007 March 2007 April 2007 May 2007 June 2007 July 2007 August 2007 September 2007 October 2007 November 2007 December 2007 January 2008 February 2008 April 2008 May 2008 June 2008 July 2008 August 2008 September 2008 October 2008 November 2008 January 2009 February 2009 March 2009 May 2009 June 2009 July 2009 August 2009 October 2009 December 2009 January 2010 February 2010 April 2010 May 2010 June 2010 July 2010 November 2010 February 2011 June 2011 July 2011 August 2011 September 2011 October 2011 November 2011
recent entries

Life Begins at the End of Your Comfort Zone Tanggal Sembilan Bulan Keenam Silam Bike to Eat #1: Mangut Lele Nasi Jaya Jangan Menulis Skripsi, Titish (Un)used Stamps PLN Mustajab De Koelies in Deli Stars in A Jar Layar Tancep Tolok Ukur Sayang