|
make
every second
count
|
titish! |
recently
Proofreading
Foucault's Pendulum Umberto Eco Reading Best Kept Secrets Sandra Brown Receiving Pasar Apung from: Indonesia Sending Laugh Out Loud Each Day to: Taiwan Watching Paranormal Activity |
foot prints |
chatter box |
|||||||||||||||||||||
Friday, August 05, 2011 @ 10:10 AMBeneluxlaan
Saya semacam witing tresna jalaran saka kulina dengan asrama saya di sini. Hari pertama saya tiba di sini, beuhh.... udah bauk (pake k), jorok, dekil, jauh dari kampus lagi! Rasanya kok seperti dibohongi oleh gambaran luar negeri di tivi-tivi yang terkesan bersih dan semerbak mewangi. Bahkan ada teman sekelas saya, yang SUDAH MEMBAYAR untuk asrama ini, memutuskan untuk pindah dan tinggal bersama temannya di tempat lain. Tapi, saya pikir, okelah, saya juga bukannya lagi liburan dan menetap di hotel kok. Pengurus gedung tentunya menganggap kami para pelajar yang udah gedhe dan mandiri, udah ngerti caranya bersih-bersih dan bertanggung jawab bersama untuk itu. Toh hari kedua sepulang dari kampus... tadaaa... fasilitas bersama seperti kamar mandi dan dapur mendadak lebih kinclong dan kami tinggal ngurusin kamar masing-masing. Masalah bauk-jorok-dekil sudah teratasi. Masalah jauh? Sepertinya ini sudah tidak bisa diapa-apain lagi. Sebagai peserta Utrecht Summer School (USS), mau ditempatkan di asrama mana memang sepenuhnya ditentukan oleh takdir. Pengen dapat asrama yang bisa dicapai dengan jalan kaki dari kampus? You have to be very lucky! Pada awalnya saya pikir masalah jarak ini relatif. Idealnya saya memang harus naik trem dari asrama ke kampus vice versa, tapi itu cuma sebentar sekali. Jadi kok kayaknya asrama saya nggak jauh amat-amat ya, apalagi ketika saya mendapati fakta bahwa:
Dengan mempertimbangkan silogisme di atas, pada hari kedua saya tergoda untuk berjalan kaki dari kampus ke asrama sendirian. Pikir saya waktu itu, saya bisa sekalian meresapi kehidupan warga lokal dari dekat, menghemat ongkos transportasi, dan terhindar dari menaiki trem setiap hari sepertinya cukup menyenangkan. Saya melupakan fakta bahwa:
Walhasil saya nyasar di perumahan yang sepi entah di mana. Beneluxlaan, lokasi asrama saya, bahkan tidak tercantum jelas di peta yang saya tenteng-tenteng sore itu (Argh, accio smartphone!). Kalau dihitung, total ada sepuluh orang yang saya tanyai. Orang pertama yang saya tanyai tidak bisa bahasa Inggris sama sekali yang kemudian mengoper saya kepada orang kedua yang juga tidak bisa. (Apa kabar artikel saya tentang orang Belanda yang multilingual? Haha) Orang kedua mengoper saya kepada orang ketiga yang agak terbata-bata menjelaskan bahwa sebenarnya saya sudah dekat, tetapi jembatan ke arah Beneluxlaan ditutup selama sebulan sehingga saya harus memutar cukup jauh. Orang keempat, kelima, dan keenam tidak tahu di mana itu Beneluxlaan. Orang ketujuh rupanya mabuk dan menjawab dengan racauan bahasa Belanda. Orang kedelapan dan kesembilan menjawab 'kayaknya di sana'. Saya sampai cerita kepada orang kesembilan kalau dari kamar saya bisa melihat gedung yang ada tulisannya MAX, tapi dia cuma bilang 'I have no idea'. Orang kesepuluh menggeleng-gelengkan kepala, tapi sangat berbaik hati mencarikan di mana Beneluxlaan melalui smartphone-nya. Setelah orang kesepuluh ini, saya merasa kayaknya saya sudah cukup dekat dengan Beneluxlaan. Dan sampailah saya di sebuah taman yang rasanya pernah saya lihat dari dalam trem: Park Transwijk.
Untuk meredakan frustrasi, saya beristirahat di bangku taman dan menonton bebek-bebek lucu di situ. Ketika saya berdiri dan berniat melanjutkan perjalanan, bebek-bebek itu mengejar-ngejar saya secara berjamaah. Oke, kata 'lucu' tadi saya ralat.
Setelah berjalan lima menit lagi, terharu sekali rasanya ketika saya melihat bangunan ini:
Arggghh, akhirnya sampai juga saya di kamar tepat pukul enam, padahal kelas sore itu selesai pukul tiga. Dengan ini saya tidak akan pulang berjalan kaki lagi. ***
Dan sekarang alhamdulillah saya sudah betah :) Labels: ~^kompetiblog2011^~ |
||||||||||||||||||||||
monthly archive |
||||||||||||||||||||||
recent entriesLife Begins at the End of Your Comfort Zone Tanggal Sembilan Bulan Keenam Silam Bike to Eat #1: Mangut Lele Nasi Jaya Jangan Menulis Skripsi, Titish (Un)used Stamps PLN Mustajab De Koelies in Deli Stars in A Jar Layar Tancep Tolok Ukur Sayang |
||||||||||||||||||||||