Sunday, April 15, 2012

Ke Belanda Gara-Gara 500 Kata

Berhubung belakangan ada beberapa orang yang nanyain artikel yang saya buat tahun kemarin, saya pikir lebih baik saya repost saja tulisan tersebut di blog ini. Sekalian buat arsip pribadi dan juga promosi blog ini *cailahh*. Semoga bermanfaat!

***

Belanda: Merangkul Dunia dengan Bahasa

Suatu hari saya tidak sengaja menguping obrolan turis asing di dekat saya. Dalam sekejap hidup terasa tidak adil. Bagaimana mungkin anak kecil yang tidak lebih tinggi dari perut saya bisa casciscus berbicara bahasa Inggris jauuuuuuuuuuuh lebih baik daripada saya yang bertahun-tahun pontang-panting mempelajarinya?

Sebagai warga dari sebuah negara berbahasa nasional non-Inggris, kita memang dituntut untuk paling tidak menguasai tiga bahasa: bahasa daerah (bahasa ibu), bahasa Indonesia (bahasa nasional), dan bahasa Inggris (bahasa internasional). Andai bisa memilih, kok sepertinya enak sekali ya jadi orang yang terlahir di negara berbahasa Inggris dan menguasai bahasa pergaulan internasional tersebut secara “otomatis”?

Lucunya:

If a person who speaks three languages is trilingual, and one who speaks four languages is quadrilingual, what is someone called who speaks only one language?"

"An American!”

Dalam bukunya How to Learn Any Language (1991), Barry Farber, sedikit dari orang Amerika yang mempelajari 25 bahasa, berpendapat bahwa penguasaan bahasa asing orang Amerika miskin karena keterbuaian mereka dalam zona nyaman. Orang Amerika tidak benar-benar dituntut untuk mempelajari bahasa asing [1]. Jika dengan menguasai satu bahasa mereka sudah dapat hidup, untuk apa mempelajari bahasa lain? Toh bangsa lain justru berbondong-bondong mempelajari bahasa mereka.

Hal sebaliknya terjadi di Belanda.

Admittedly, it’s hard to find a Dutchman who doesn’t speak four or five languages (Farber, 1991).


Jika kita melihat peta Eropa, Belanda tampak seperti liliput yang berada di antara dua negara raksasa, yaitu Perancis dan Jerman. Berbeda dengan kedua tetangganya yang merupakan pusat aristokrasi dan kekuasaan politik Eropa, Belanda hanya dapat menggantungkan hidup pada satu hal: perdagangan [2]. Agar perdagangan tersebut berkembang, para saudagar Belanda terpacu untuk menguasai bahasa Perancis dan Jerman karena hampir tidak mungkin mengharapkan kedua negara besar tersebut berbahasa Belanda. Tidak banyak bangsa yang mau bersikap rendah hati seperti ini dalam berbahasa. Sudah tidak menjadi rahasia lagi bagaimana orang asing yang berkunjung ke Perancis merasa kurang nyaman atas arogansi bahasa yang dimiliki warganya. Orang-orang Perancis memang terkenal malas diajak bicara selain dengan bahasa mereka sendiri [3].

Apakah sikap berbahasa warga Belanda ini relevan dengan prestasi negaranya?

Saya jadi teringat akan sebuah seminar pendidikan yang saya ikuti beberapa minggu lalu. Sang konsultan pendidikan memaparkan tentang banyaknya lulusan SMA yang semula ingin sekali melanjutkan studi ke Jepang, lantas mengubah tujuan negara karena kendala bahasa. Belanda seakan membaca keresahan tersebut dengan menjadi negara berbahasa non-Inggris pertama yang menawarkan lebih dari 1.500 program studi internasional berbahasa Inggris [4]. Bisa jadi ini berarti Belanda mampu "merebut" calon akademia yang semula hendak belajar di Jerman, Perancis, dan negara berbahasa pengantar pendidikan non-Inggris lainnya. Kebijakan Belanda tersebut menjadi jurus ampuh dalam menarik lebih banyak warga dunia yang haus akan ilmu untuk belajar di negaranya. Akan ada semakin banyak orang pintar dari penjuru dunia yang ingin bertambah pintar di Belanda dan menghasilkan temuan-temuan penting bagi dunia. Semoga kita salah satunya.