Adek (ketika membaca blog kuliner saya): Iki digawe dalam rangka laporan karo Mas Dhamar po piye sih? Ono keterangane madhang ro sapa ...
Saya: ... iso reti le madhang dibayari opo mbayar dhewe barang.
*ngakak bareng*
Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts
Monday, August 06, 2012
Too Much Information :))
Thursday, October 20, 2011
Kedai Kebun Restaurant
Dalam rangka menyambut kedatangan pacar, saya sudah mengumpulkan beberapa kupon makan yang saya beli dari layanan social buying semacam DealKeren dan MbakDiskon. Kupon yang saya kumpulkan tentunya kupon yang masih berlaku ketika si pacar berada di sini. Sejauh ini sih sudah terkumpul kupon-kupon dari 6 rumah makan. Jumlah ini jelas masih akan bertambah karena setiap minggunya selalu ada deal baru sementara si pacar masih pulang sekitar 7 minggu lagi. *Urusan gendut dipikir belakangan :p* Keburu kelaparan menunggu si pacar yang tak kunjung datang, akhirnya saya kemarin memutuskan untuk menggunakan beberapa kupon dulu. Berhubung kupon terbanyak yang saya beli adalah kupon dari Kedai Kebun Restaurant (4 kupon), ke sanalah saya memanfaatkan 2 kupon dengan mengajak pacar cadangan saya yang di sini, lolz. Dua kupon lainnya saya sisakan untuk dinikmati bersama si pacar asli :D
![]() |
| Kedai Kebun Restaurant, Jl. Tirtodipuran 3 |
Kedai Kebun terletak di daerah Tirtodipuran, sejalan dengan K'Meals dan dekat dengan kawasan Prawirotaman, tempat ViaVia dan rumah makan berharga wow lainnya berada. Kawasan ini memang terkenal dengan tempat home stay para bule sehingga harga makanannya ya-gitu-deh. Ini bukan kali pertama saya mengunjungi Kedai Kebun. Bertahun-tahun lalu saya pernah ke sini bersama teman-teman SMA untuk menonton pertunjukan tari yang dipanitiai oleh pacar salah satu teman. Meski sekarang sudah menjadi mantan pacar, mereka tetap berhubungan baik karena harus tinggal serumah. Yap, mereka sudah menikah :D *Ini kenapa malah jadi nggosipin temen -_-"* Anyways, Kedai Kebun Restaurant ini memang semacam teras dikelilingi tanaman yang menempel pada rumah yang diperuntukkan untuk pertunjukan kesenian dan ruang pameran. Sesuai dengan ketentuan penggunaan kupon, sebelumnya saya telah melakukan reservasi untuk lunch date di sana. Siang itu kami berdua mengambil tempat di lantai atas dan menjadi tambahan dari seumprit pengunjung pribumi di situ. Setelah cukup lama membolak-balik buku menu sambil mengawang-awang harga total agar tidak jauh meleset dari nilai 2 kupon yang saya kantongi (30 ribu/kupon), saya akhirnya memesan menu-menu berikut:
![]() |
| dadar udang (28.000) |
![]() |
| es cokelat (13.000) |
Sementara teman kencan saya memesan:
Ditambah dengan cemilan untuk berdua berupa:
Sewaktu memesan dadar udang, saya ditawari mau pake nasi atau nggak dan saya bilang 'nggak'-nya kayaknya agak lebay deh (Yes, I'm on diet), si bule di sebelah sampai nengok. Meski sok lagi diet, godaan es cokelat tetap tidak tertahankan. Jogja panasnya ngentang-ngentang, cing! Dadar udangnya enak karena ada udangnya (zzz), mi gorengnya juga enak (--> komentar dari seseorang yang bukan penggemar mi), sementara bitterballen-nya rasanya sama persis kayak kroket. Nggak ngerti deh harusnya bitterballen rasanya kayak gimana. Saya sempat ngicipin bitterballen asli sewaktu di Den Haag sana, tapi rasanya kayak apa sudah menghilang dari memori kepala +_+
Setelah puas makan dan nggosipin topik yang sangat bermutu (baca: skripsi) tibalah saatnya membayar di lantai bawah. Total makan siang kami kali itu adalah 88.000 dikurangi nilai 2 kupon sehingga kurang 28.000. Si teman kencan berinisiatif nomboki 20.000 sehingga saya seharusnya tinggal mengeluarkan 8.000 saja. Digunakan kata 'seharusnya' karena ... di dekat kasir ada kartu pos yang dijual doongggg. Harusnya saya tidak heran kalau restoran yang juga tempat pameran dan pertunjukan seperti Kedai Kebun juga menjual kartu pos sehingga ada antisipasi terhadap godaan kartu pos yang ngawe-ngawe minta dibeli. Berhubung kartu-kartu itu begitu lihai menggoda, saya akhirnya menyambar tiga seri kartu pos pameran yang masing masing dijual seharga 30.000, 15.000, dan 3.500. Penggunaan kupon diskonan pun akhirnya terbukti gagal mendukung program pengiritan +_+
![]() |
| mi goreng (20.500) |
| lime ginger honey (12.500) berlatar belakang si teman kencan |
Ditambah dengan cemilan untuk berdua berupa:
| bitterballen (14.000/5pcs), yang satu sudah masuk perut |
Sewaktu memesan dadar udang, saya ditawari mau pake nasi atau nggak dan saya bilang 'nggak'-nya kayaknya agak lebay deh (Yes, I'm on diet), si bule di sebelah sampai nengok. Meski sok lagi diet, godaan es cokelat tetap tidak tertahankan. Jogja panasnya ngentang-ngentang, cing! Dadar udangnya enak karena ada udangnya (zzz), mi gorengnya juga enak (--> komentar dari seseorang yang bukan penggemar mi), sementara bitterballen-nya rasanya sama persis kayak kroket. Nggak ngerti deh harusnya bitterballen rasanya kayak gimana. Saya sempat ngicipin bitterballen asli sewaktu di Den Haag sana, tapi rasanya kayak apa sudah menghilang dari memori kepala +_+
Setelah puas makan dan nggosipin topik yang sangat bermutu (baca: skripsi) tibalah saatnya membayar di lantai bawah. Total makan siang kami kali itu adalah 88.000 dikurangi nilai 2 kupon sehingga kurang 28.000. Si teman kencan berinisiatif nomboki 20.000 sehingga saya seharusnya tinggal mengeluarkan 8.000 saja. Digunakan kata 'seharusnya' karena ... di dekat kasir ada kartu pos yang dijual doongggg. Harusnya saya tidak heran kalau restoran yang juga tempat pameran dan pertunjukan seperti Kedai Kebun juga menjual kartu pos sehingga ada antisipasi terhadap godaan kartu pos yang ngawe-ngawe minta dibeli. Berhubung kartu-kartu itu begitu lihai menggoda, saya akhirnya menyambar tiga seri kartu pos pameran yang masing masing dijual seharga 30.000, 15.000, dan 3.500. Penggunaan kupon diskonan pun akhirnya terbukti gagal mendukung program pengiritan +_+
Sampai jumpa di wisata kuliner diskonan selanjutnya, yang semoga sudah bersama pacar :)
Sunday, July 10, 2011
Bike to Eat #1: Mangut Lele Nasi Jaya
Awal-awal masa pacaran satu setengah tahunan silam (saya menyebutnya Pacaran Season 1 :D), saya dan pacar punya jadwal ngedate rutin tiap Minggu pagi: gowes bareng buat hunting kuliner di wilayah Gamping-Godean dan sekitarnya (pacarku tetanggaku :p). Sewaktu si pacar liburan di sini setengah tahunan lalu a.k.a Pacaran Season 2, sekali dua kali kami masih gowes bareng meskipun udah nggak sesering Season 1. Nggak ada pacar pun toh biasanya saya punya teman gowes setia yang adalah teman SMA saya. Sejak si teman SMA tersebut keterima bekerja di Kalimantan, praktis saya makin jarang nyepeda dan lihatlah akibatnya: dalam waktu setengah tahun a = 2b berubah menjadi 2a = 3b dengan (a = berat badan si pacar) dan (b = berat badan saya). Harusnya saya senang karena itu berarti si pacar makin mengurus dan mengganteng #huek, tapi ternyata itu juga berarti saya memberat T_T
Dalam rangka mewujudkan rasio berat badan ke angka yang wajar, pagi tadi saya gowes nemenin papa hunting mangut lele di daerah mBedingin, Sumberadi, Mlati. Dengan mempertimbangkan kontur wilayah Djogja, papa sengaja milih lokasi di utara supaya asas bersakit-sakit-dahulu-bersenang-senang-kemudian terpenuhi (berangkat nanjak, pulang nyaris nggak ngayuh). Pada judul dibubuhkan #1 dengan harapan bakalan ada #2, #3, #4, dan seterusnya. Nggak ngerti juga deh kalo nyepeda tapi tujuannya cari makan begitu bakal berefek terhadap penurunan berat badan ato nggak. Yang jelas lama tidak bersepeda berefek pada menurunnya stamina tubuh saya. Baru sampai perempatan Kronggahan, saya udah minta berhenti buat minum dan pandangan tiba-tiba berkunang-kunang +_+ Tapi ini semua harus dilalui demi bisa makan ini:
Saya sering diomelin pacar ketika di rumah makan dan sudah kenyang, saya tetap memaksakan diri untuk menghabiskan suatu makanan dengan alasan pekewuh sama yang jualan. Menurut saya makanan tidak habis = penjual makanan berasumsi makanannya tidak enak >> saya pekewuh. Jadi sekenyang apapun saya, saya mengusahakan untuk menghabiskan makanan pesanan saya (pekewuh penyebab gendut :-S). Tapi lihat dong itu porsinya, huhuhuh. Terpaksa saya cuma makan sepertiganya, itu pun papa udah bantuin ngabisin tempe gembusnya. Lagian mangut lele yang ini biasa aja, saya lebih suka Mangut Lele Mbak Is di mBantul sana. Saya nggak tahan pedes, tapi sambel petisnya yang di mBantul itu jan... nagiiihhh!! Satu lagi mangut lele yang belum kesampaian adalah Mangut Lele Mbah Marto di daerah ISI, mBantul. Kapan-kapan nyepeda ke sana ah :)
Harga: 2 porsi mangut lele (komplet dengan tahu bacem, tempe gembus, sayur tempe) + 3 mangut lele dibawa pulang + 2 teh panas = 31ribu
Rasa: 6,5/10
Sekian. Semoga ada edisi bike2eat-bike2eat selanjutnya! :D Di Utrecht, mungkin? ;)
P.S. Sesampainya di rumah saya masih gendut :-S
Subscribe to:
Posts (Atom)




