Showing posts with label kompetiblog2011. Show all posts
Showing posts with label kompetiblog2011. Show all posts

Sunday, April 15, 2012

Ke Belanda Gara-Gara 500 Kata

Berhubung belakangan ada beberapa orang yang nanyain artikel yang saya buat tahun kemarin, saya pikir lebih baik saya repost saja tulisan tersebut di blog ini. Sekalian buat arsip pribadi dan juga promosi blog ini *cailahh*. Semoga bermanfaat!

***

Belanda: Merangkul Dunia dengan Bahasa

Suatu hari saya tidak sengaja menguping obrolan turis asing di dekat saya. Dalam sekejap hidup terasa tidak adil. Bagaimana mungkin anak kecil yang tidak lebih tinggi dari perut saya bisa casciscus berbicara bahasa Inggris jauuuuuuuuuuuh lebih baik daripada saya yang bertahun-tahun pontang-panting mempelajarinya?

Sebagai warga dari sebuah negara berbahasa nasional non-Inggris, kita memang dituntut untuk paling tidak menguasai tiga bahasa: bahasa daerah (bahasa ibu), bahasa Indonesia (bahasa nasional), dan bahasa Inggris (bahasa internasional). Andai bisa memilih, kok sepertinya enak sekali ya jadi orang yang terlahir di negara berbahasa Inggris dan menguasai bahasa pergaulan internasional tersebut secara “otomatis”?

Lucunya:

If a person who speaks three languages is trilingual, and one who speaks four languages is quadrilingual, what is someone called who speaks only one language?"

"An American!”

Dalam bukunya How to Learn Any Language (1991), Barry Farber, sedikit dari orang Amerika yang mempelajari 25 bahasa, berpendapat bahwa penguasaan bahasa asing orang Amerika miskin karena keterbuaian mereka dalam zona nyaman. Orang Amerika tidak benar-benar dituntut untuk mempelajari bahasa asing [1]. Jika dengan menguasai satu bahasa mereka sudah dapat hidup, untuk apa mempelajari bahasa lain? Toh bangsa lain justru berbondong-bondong mempelajari bahasa mereka.

Hal sebaliknya terjadi di Belanda.

Admittedly, it’s hard to find a Dutchman who doesn’t speak four or five languages (Farber, 1991).


Jika kita melihat peta Eropa, Belanda tampak seperti liliput yang berada di antara dua negara raksasa, yaitu Perancis dan Jerman. Berbeda dengan kedua tetangganya yang merupakan pusat aristokrasi dan kekuasaan politik Eropa, Belanda hanya dapat menggantungkan hidup pada satu hal: perdagangan [2]. Agar perdagangan tersebut berkembang, para saudagar Belanda terpacu untuk menguasai bahasa Perancis dan Jerman karena hampir tidak mungkin mengharapkan kedua negara besar tersebut berbahasa Belanda. Tidak banyak bangsa yang mau bersikap rendah hati seperti ini dalam berbahasa. Sudah tidak menjadi rahasia lagi bagaimana orang asing yang berkunjung ke Perancis merasa kurang nyaman atas arogansi bahasa yang dimiliki warganya. Orang-orang Perancis memang terkenal malas diajak bicara selain dengan bahasa mereka sendiri [3].

Apakah sikap berbahasa warga Belanda ini relevan dengan prestasi negaranya?

Saya jadi teringat akan sebuah seminar pendidikan yang saya ikuti beberapa minggu lalu. Sang konsultan pendidikan memaparkan tentang banyaknya lulusan SMA yang semula ingin sekali melanjutkan studi ke Jepang, lantas mengubah tujuan negara karena kendala bahasa. Belanda seakan membaca keresahan tersebut dengan menjadi negara berbahasa non-Inggris pertama yang menawarkan lebih dari 1.500 program studi internasional berbahasa Inggris [4]. Bisa jadi ini berarti Belanda mampu "merebut" calon akademia yang semula hendak belajar di Jerman, Perancis, dan negara berbahasa pengantar pendidikan non-Inggris lainnya. Kebijakan Belanda tersebut menjadi jurus ampuh dalam menarik lebih banyak warga dunia yang haus akan ilmu untuk belajar di negaranya. Akan ada semakin banyak orang pintar dari penjuru dunia yang ingin bertambah pintar di Belanda dan menghasilkan temuan-temuan penting bagi dunia. Semoga kita salah satunya.

Saturday, March 24, 2012

Fun Facts about Utrecht (2): Miffy

Entah kenapa saya jarang menggunakan foto profil dengan foto muka sendiri di berbagai akun di internet. Kalau nggak foto objek lain ya foto diri sendiri, tapi tampak belakang :)) Contohnya seperti apa dapat dilihat pada bagian kanan atas blog ini :p Konon yang begini ini pertanda ketidak-PD-an seseorang, hahaha. Saya nggak ambil pusing dengan hipotesis seperti itu karena buat saya ini cuma masalah kebiasaan.

Begitu pula sewaktu saya mendaftar Kompetiblog 2011 dan 'disunahkan' untuk mengunggah foto profil di web. Tidak ingin repot, saya memilih calon foto profil saya dari file berisi ratusan koleksi kartu pos saya dan akhirnya pilihan saya jatuh pada kartu pos bergambar kelinci berikut ...


Pertimbangan saya waktu itu adalah sekadar memilih kartu pos yang sekiranya lucu, begitu coba diunggah tampak manis di web tersebut, ya sudah.


Masalah foto profil ini pun segera terlupakan karena masih banyak hal yang jauuh lebih penting: belum tau mau menulis tentang apa, lanjut proses penulisan dan penyuntingan, lanjut deg-degan menunggu pengumuman, lanjut riweuh persiapan sebelum keberangkatan, lanjut sibuk belajar dan mengerjakan tugas summer course, dan seterusnya.

Masalah ini akhirnya mengemuka lagi pada suatu sore, saat saya berkesempatan JJS keliling Utrecht bersama Bu Kiki, dosen UI yang mengambil studi doktoral di Utrecht Universiteit dan berbaik hati memandu saya menjelajahi kota ini. Sewaktu jalan-jalan di sekitaran Oudegracht, saya melihat sebuah toko yang tampak memajang souvenir keramik berwarna biru yang merupakan oleh-oleh khas Delft. Sebuah pertanyaan pun terucap dari mulut saya:

"Kalau dari Utrecht oleh-oleh khasnya apa ya, Bu?"

Bu Kiki tampak berpikir sebentar kemudian mengajak saya lanjut berjalan sambil menjelaskan tentang sebuah karakter kartun yang diciptakan oleh seorang kartunis kelahiran Utrecht. Menurut beliau, karakter kartun tersebut merupakan karakter kesayangan sekaligus kebanggaan Utrecht. Kalau mau beli oleh-oleh khas Utrecht ya belilah pernak-pernik bergambar karakter tersebut!

Bu Kiki kemudian berhenti di sebuah toko dan menunjuk ke arah sederet kartu pos yang dipajang dengan gambar-gambar karakter yang dimaksud tersebut ....

(eneryvibes.wordpress.com)

Loh, kok si foto profil???

Ckck... Mana saya tahu kalau si kelinci lucu, yang saya pilih dari ratusan gambar yang lain untuk foto profil saya dulu, ternyata adalah kelinci kesayangan warga Utrecht. Dengan memajang gambar Miffy, nama si kelinci itu, saya seakan diam-diam menitipkan doa agar saya benar-benar dapat dikirim ke kota asal si kelinci tersebut. Bagi saya ini sebuah kebetulan yang indah :)

*

Miffy atau Nijntje (singkatan dari konijntje yang berarti 'kelinci kecil') adalah karakter ciptaan Dick Bruna, seorang kartunis kelahiran Utrecht. Karakter ini lahir pada tahun 1955 dengan ciri khas gaya yang minimalis: goresan garis yang sederhana dan penggunaan warna yang tidak banyak. Warga Utrecht sendiri memang sayaaangg sekali sama si Miffy ini. Ada banyak bentuk penghormatan terhadap Dick Bruna dan Miffy, antara lain:

1. Dick Bruna Huis @ Agnietenstraat 3

Tampak luar (oranjeflamingo.wordpress.com)

Tampak dalam (flickriver.com)

2. Nijntjepleintje @ Oudegracht - Van Asch of Wijckskade

(learningdutchatstevenson.blogspot.com)

Little Miffy Square, lengkap dengan patung Miffy (panoramio.com)

3. Miffy Traffic Light @ Lange Viestraat - Sint Jocobsstraat

Miffy Traffic Light (oddee.com)

*

Nah, sekarang, coba bayangkan kalau si Miffy ini bukan kelinci, tetapi kucing! Sosok apa yang bakal kalian ingat?

Iyes, si Hello Kitty!

Kucing Jepang keluaran Sanrio ini lahir tahun 1974, 19 tahun setelah Miffy lahir, tapi lucunya justru banyak yang menyebut si Miffy ini "Hello Kitty-esque rabbit"! Seakan si Hello Kitty ini belum cukup mirip dengan Miffy, dua tahun kemudian muncul teman Hello Kitty yang berupa kelinci bernama Cathy.

(ipkitten.blogspot.com)

Pada wawancaranya dengan The Daily Telegraph tahun 2008, Dick Bruna mengungkapkan ketidaksukaannya pada Hello Kitty. Menurutnya, Hello Kitty jelas meniru Miffy! Ketidaksukaan Dick Bruna ini jadi 'lucu' jika melihat bahwa sebenarnya Dick Bruna juga sempat dituduh hal serupa, yaitu tuduhan bahwa Miffy meniru Musti, karakter kucing dari Belgia yang lahir tahun 1945, 10 tahun sebelum Miffy lahir.

Jadi, kronologis tuduh-menuduh peniruan karakter ini memang agak rumit, pemirsa ...

kucing Belgia - kelinci Belanda - kucing Jepang - kelinci Jepang 
(lille-art.com)

Terlepas dari keterlibatan Musti, pada November 2010 pengadilan Belanda menganggap Cathy terlalu mirip dengan Miffy dan menuntut Sanrio untuk menghentikan penjualan karakter Cathy di kawasan Belanda, Belgia, dan Luxemburg atau membayar denda. Sanrio mengajukan banding dan solusi justru datang dari sebuah bencana pada Maret 2011: tsunami di Jepang

Bentuk dukacita dari Dick Bruna untuk Jepang

Mereka sepakat untuk berdamai. Sanrio setuju untuk tidak akan menggunakan karakter Cathy lagi dan alih-alih mempermasalahkan uang lewat jalur hukum, kedua belah pihak memutuskan untuk menyumbang korban tsunami sebesar 150 ribu Euro. Benar-benar akhir yang melegakan ya :)

Berpelukaaaaaan

Logo yang dibuat Dick Bruna untuk sebuah yayasan perdamaian

Wednesday, March 21, 2012

Kanal-Kanal Saksi Kenakalan

Beberapa hari sebelum terbang ke Belanda, saya menulis komentar sok asyik nan kontradiktif di grup Facebook teman-teman seangkatan, terkait dengan keberangkatan saya ke sana:

Ramadhan nanti akan ada cewek berjilbab jalan-jalan di red light district, nontoni cewek-cewek telanjang dipajang, berbuka puasa dengan ganja & beli oleh-oleh buat kalian di museum seks!

Komentar di atas jelas cuma komentar ngasal dari orang non-Belanda yang sedang membicarakan negara tersebut dari sudut pandang dystopian. Karena cuma nulis ngawur, mana saya sangka kalau sebenarnya saya punya kesempatan besar untuk benar-benar merealisasikan 'bualan' tersebut.

*

Hari-hari terakhir berada di Eropa saya menginap di Amsterdam, di sebuah hostel bernama St. Christopher's at The Winston yang saya booking jauh-jauh hari sewaktu masih di Indonesia. Saya memilih hostel tersebut semata-mata atas pertimbangan menghindari adegan berlama-lama menyeret koper. Dengan kata lain, saya mencari hostel yang lokasinya dekat dengan Amsterdam Centraal. Bodohnya, lagi-lagi karena meremehkan riset, saya baru tahu kalau hostel saya ini juga dekat dengan kawasan Red Light District, begitu sudah pulang ke Tanah Air! Pantesan sewaktu check in saya disambut oleh si mas2 yang jaga di meja resepsionis dengan tatapan kamu-ngapain-bisa-sampai-di-sini-sendirian-wahai-cewek-berjilbab-dengan-tampang-alim?


Meskipun tidak datang bersama siapapun, saya mengambil kamar berjudul 4 bed female dorm yang berarti saya akan punya 3 teman sekamar yang benar-benar tidak dikenal. Bagian harus sekamar dengan orang asing ini sempat bikin saya pikir-pikir cukup lama karena agak parno dengan masalah keamanan, kenyamanan, dll. Tapi kalau tidak dicoba, entah kapan lagi saya bisa mencicipi bagaimana rasanya menginap di hostel dengan tipe kamar dormitory ini. Model kamar beginian kan nggak ngetrend di Indonesia. Lagipula kalau mau ambil private room ... duitnye dari maneeee? Akhirnya dengan banyak doa, saya niatkan ambil kamar dormitory. Asal tidak mengambil tipe mixed dorm alias campur cewek-cowok *wewww*, insya Allah aman. Bismillah.

St. Christopher's at The Winston (hostelclub.com)

Insiden kereta penuh air mata di Paris sebelumnya otomatis membuyarkan jadwal traveling solo saya di Amsterdam. Prediksi indah saya adalah saya akan tiba di Amsterdam cukup pagi untuk kemudian menyempatkan diri jalan-jalan ke Volendam atau Delft. Ini pilihan yang sulit karena kota yang pertama adalah semacam kota wajib-kunjung-turis sementara kota yang terakhir murni iming-iming dari Geges. Rupanya saya tidak perlu repot-repot memilih karena saya sampai di Amsterdam sudah siang, mood berantakan, sementara koper saya saja masih teronggok manis nun jauh di Utrecht sana. Ngokk.

Sepulang dari Utrecht untuk mengambil koper, saya segera ke hostel dan diantarkan ke sebuah kamar di lantai atas. Sambil menaiki tangga yang curam (untungnya mas resepsionis berbaik hati mengangkat si koper-yang-beratnya-bikin-frustrasi), jujur saya merasa deg-degan menghadapi calon teman-teman sekamar saya. Jangan sampai deh dapat teman sekamar yang nyolongan, rese, atau malah rasis. Kekhawatiran saya rupanya harus tertunda karena 2 ranjang yang tampak sudah ditempati sedang ditinggalkan penghuninya. Dari sisa 2 ranjang yang ada, saya memilih ranjang yang paling dekat dengan jendela. Setelah mandi dan sedikit bebenah koper, tibalah saatnya saya menyesatkan diri di Amsterdam!

Damrak (eveandersson.com)

Berhubung belum beli oleh-oleh sama sekali, saya mengarahkan diri ke Damrak, kawasan di pinggir kanal antara Amsterdam Centraal dan hostel yang saya lihat banyak menjual oleh-oleh. Di sini saya kalap dan nyaris menghabiskan semua Euro yang tersisa dengan membeli oleh-oleh standar seperti gantungan kunci, T-Shirt, dan pajangan. Sedang asyik-asyiknya jalan-jalan sendirian di Damrak, tiba-tiba saya menemukan sebuah bangunan yang ngawe-awe minta dimasuki.

Amsterdam Sex Museum! (eurotrip.com)

Saya benar-benar tidak menyangka museum yang sempat saya sebut di Facebook itu lokasinya sangat dekat dengan lokasi hostel tempat saya menginap. Setelah mempertimbangkan mau-masuk-atau-tidak sambil belanja kartu pos di kios sebelah, saya akhirnya mengurungkan niat untuk masuk. Fakta bahwa saya cewek dan sendirian menyiutkan nyali saya untuk berkeliling di dalam museum bertarif 4 Euro tersebut. Lagipula, sepenasaran apapun, saya semacam punya tanggung jawab moral untuk tidak memasuki museum itu dengan dandanan sealim ini :p

Sebagai penghibur atas batalnya kunjungan ke Amsterdam Sex Museum, saya pun menghadiahi diri saya sendiri dengan oleh-oleh yang 'lucu' berupa kartu pos bergambar langka dan ...

Agar lebih sopan saya menyebutnya pasta gunting :|

Berhubung si pacar lebih jago masak daripada saya, sewaktu mudik kemarin dia sempat saya minta memasak si pasta gunting ini. Entahlah cewek macam apa yang meminta pacarnya memasak pasta berbentuk begini, ahaha --" Bukan maksud saya untuk bersikap 'nakal', tapi jauh-jauh ke city of freedom masak saya nggak beli kenang-kenangan 'khas' Amsterdam! Tapi definisi khas ini rupanya jadi agak kelewatan sih. Saya nyaris membeli satu pot kecil tanaman ganja lohhh ... Banyaknya 'coffee shop' alias kedai ganja yang pating tlecek di kota ini bikin saya lupa sama sekali kalau ganja dilarang di Indonesia. Untungnya saya segera ingat sehingga sekarang tidak perlu ngeblog dengan judul Dari Belanda ke Penjara +_+

Karena Euro semakin menipis dan belanjaan mulai membebani, saya memutuskan untuk pulang ke hostel dan segera beristirahat saja agar besok tidak ketinggalan pesawat. Dua teman sekamar saya masih tidak ada di kamar, tetapi rupanya tadi sempat ada yang pulang karena saya menemukan sesuatu yang mencolok yang saya yakin tadi tidak ada: celana dalam warna oranye ngejreng bekas dipakai yang dengan wagu-nya semampir di atas lemari.

Meskipun pada awalnya terbengong-bengong, saya segera menyadari sesuatu. Ah iya, city of freedom!

Wednesday, October 05, 2011

Leaving Paris: Save The Worst for Last

Sekitar dua minggu yang lalu saya tidak sengaja menonton ulang film The Da Vinci Code dan merasa girang karena sekarang lebih familiar dengan lokasi syutingnya *norak*. Beberapa hari kemudian lagi-lagi saya tidak sengaja menonton ulang film lain yang bersetting di Paris, yaitu Mr. Bean's Holiday. Namun, berbeda dengan The Da Vinci Code yang bikin girang, film yang seharusnya lucu ini justru bikin saya bete sebete-betenya. Semua itu gara-gara satu adegan yang mengingatkan saya pada satu-satunya hal yang ingin saya lupakan dari liburan kemarin di Eropa: adegan Mr. Bean ketinggalan kereta.


Melihat Rowan Atkinson berlari-lari mengejar kereta di Gare du Lyon mengingatkan saya akan rasanya ngos-ngosan setelah lari-lari di sepanjang rel Gare du Nord untuk kemudian mendapati fakta bahwa kereta yang akan membawa saya kembali ke Belanda sudah tidak terkejar lagi. Ya ampuuuunnnn, kejadiannya nyaris sama sehingga saya nontonnya penuh buruk sangka "Apa ya Mr. Bean's Holiday ini khusus dibuat untuk mengece sayaaaa" which is anakronisme karena saya liburan tiga tahun setelah Mr. Bean's Holiday diproduksi, zzz.  

oyya.tumblr.com

"Keretanya sudah berangkat. Kamu SUDAH telat tiga menit." Begitu kata petugasnya yang langsung menyadarkan saya bahwa: ini Eropa, Nona! Punctuality-nya bisa bikin orang Indonesia bergidik ngeri. Di Indonesia mungkin saya bisa bilang saya BARU telat tiga menit.

Berhubung tiket Thalys saya tidak fleksibel, ya sudah wasalam. Saya tidak bisa minta ganti. Ingatan akan senang-senang selama dua minggu di Eropa ke belakang seakan lenyap dan digantikan dengan kenyataan menjengkelkan bahwa sekarang saya di Eropa, sendirian, ketinggalan kereta, dan kalau harus beli tiket lagi entah bawa duit cukup atau tidak. Sambil menahan tangis pun saya segera mengantre di loket dan mendapatkan tiket seharga 3,5 kali tiket semula T___________T Sepanjang perjalanan Paris--Amsterdam saya cuma bisa mengelus-elus kursi sambil ngedumel dalam hati "mahal beneeeerrr buat bisa duduk di siniiii"

P.S. Kemarin saya janjian main ke kos teman, sang teman kaget bukan kepalang begitu membuka pintu gerbang dan mendapati saya datang tepat waktu. "Titissshh, aku belum mandiiii. Aku bilang jam sebelas soalnya biasanya kamu nyampe sini juga jam setengah dua belasan." :))

Monday, October 03, 2011

Eiffel, I Miss Him

Hati-hati! Ke kota paling romantis di dunia tanpa didampingi pasangan itu bisa bikin makan ati :D Berikut ini top three tempat romantis di Paris yang kemarin sempat saya kunjungi bersama Geges dan suatu hari nanti harus saya kunjungi lagi bersama pasangan. Amin! xD

3. Seine River Sightseeing


Sepulang dari Louvre, hari sudah semakin sore. Dari Jardin des Tuileries saya dan Geges mengarah ke Sungai Seine dan nongkrong di dekat jembatan Passerelle Léopold-Sédar-Senghor *beuh, namanya susahh +_+* Pantulan cahaya matahari di Sungai Seine yang cuantik ditambah dengan alunan musik jazz live rupanya memberikan efek tertentu. Di sini saya mendadak kangen sama si pacar, haha.

2. Paris Love Bridge

Puas thenguk-thenguk di pinggir kali, kami memutuskan segera pulang ke hostel untuk beristirahat dan melewati jembatan bernama susah tadi. Apa yang ada di sepanjang jembatan mulai menarik perhatian kami: love padlocks! Di Paris sendiri rupanya ada tiga jembatan tempat para pasangan "menggembok" cinta mereka, yaitu Passerelle Léopold-Sédar-Senghor, Pont des Arts, dan Pont de l'Archevêché. Di sana ada buanyaaak sekali gembok-gembok unyu bertuliskan sepasang nama. Saya bahkan sempat menemukan nama dua cewek dalam satu gembok :p


Geges kemudian mengusulkan agar saya melakukan hal serupa. Berhubung saya tidak membawa gembok ke mana-mana dan juga tidak membawa spidol permanen untuk melakukan vandalisme terhadap gembok-gembok berbahan logam yang sudah bercokol di sana, akhirnya saya mencari gembok yang ditempeli secarik kertas dan membubuhkan nama saya dan *uhuk2* nama pacar di dekat nama dua orang yang sudah ada di sana, zzzz... Beberapa hari sesudahnya pun saya bercerita kepada pacar dengan mengatakan "dalam hubungan kita sekarang ada empat orang" +_+

1. Eiffel @ Night


Eiffel pada malam hari adalah tempat yang HARUS, WAJIB, dan MUSTI dikunjungi bersama pasangan. Sebelumnya saya hanya tahu kalau Eiffel di saat malam memang dipenuhi lampu-lampu, tapi saya tidak menyangka kalau atraksi lampunya benar-benar cuantiiiiik sekaliiiii! Saya dan Geges sampai terbengong-bengong melihatnya. Atmosfer yang superromantis tersebut bikin saya refleks sms ke pacar bilang saya kangen dan sms balasan darinya adalah ...

Kena paris fever ya,hu

Friday, September 30, 2011

Paris Day 2: Summer Sesummer-Summernya

Tidak seperti hostel di Brussels yang kami pilih dari hostelworld dengan mudahnya, hostel kami di Paris terpilih setelah melalui proses yang cukup panjang. Mengingat Paris termasuk kota mahal, cukup sulit rasanya memilih hostel memuaskan dengan harga terjangkau. Nemu hostel strategis tapi kok harganya selangit, begitu ada hostel murah eh lha kok jauh dari mana-mana. Urusan memilih akomodasi di Paris ini jadi terpaksa kami endapkan untuk beberapa lama sampai akhirnya benar-benar sudah tidak bisa ditunda lagi penyelesaiannya. Semakin mendekati tanggal keberangkatan, kami akhirnya berhasil menyisakan dua kandidat saja: St. Christopher's Paris dan Hotel du Commerce.


vs



Kalau boleh jujur, faktor utama saya pengen tinggal di St. Christopher's Paris adalah lokasinya yang di tepi danau buatan (Bassin de la Villette). Cantik! Tapi akhirnya kami harus berpikir rasional dan mengesampingkan faktor emosional nan romantis tersebut karena meskipun pemandangannya cantik, St. Christopher's Paris ini letaknya cukup jauh, di timur laut sana. Karena lebih memilih bisa-jalan-jalan-di-seputar-hostel daripada bisa-nonton-danau-dari-jendela-hostel, akhirnya pilihan kami condong ke Hotel du Commerce, hostel seharga 27 Euro per malam yang cukup dekat dengan salah satu objek vital di Paris, Notre Dame Cathedral. Nah, itu buktinya ada hostel strategis dan murah? Ooo, di dunia ini tidak ada yang sempurna, sodara-sodaraaa ... Biarpun strategis dan (terkesan) murah, harga segitu tidak termasuk sarapan dan bahkan kamar mandi. Yap, di sini mau mandi pun harus bayar 2 Euro! Rasanya gimanaaa gitu mandi kok bayar sekitar 24 ribu rupiah. Berhubung saya termasuk manusia yang tahan tidak mandi (*ehhhh?), rasanya kekurangan hostel yang satu ini masih bisa ditoleransi. Mumpung sudah tinggal dekat dengan Notre Dame Cathedral, hari kedua kami menyempatkan diri untuk mengunjungi si objek-wisata-tetangga dengan berjalan kaki. Rencananya dari Notre Dame Cathedral kami akan mengunjungi Versaille dan menikmatinya seharian.



Sesampainya di Notre Dame, tampak antrean pengunjung yang sudah mengular di depan pintu gereja. Sembari ikut mengantre, saya segera mengganti alas kaki (dari sandal jepit ke sepatu). Belajar dari pengalaman walking tour kemarin, hari ini saya memang berniat memakai sandal jepit selama perjalanan. Sepatu tetap tersedia di dalam tas dalam rangka berjaga-jaga siapa tahu ada objek wisata yang melarang pengunjungnya memakai sandal jepit. Bete juga kan kalau jauh-jauh sampai Versaille ternyata terkendala hanya gara-gara sandal jepit. Di Notre Dame sendiri tidak ada larangan khusus untuk memakai sandal jepit, saya berinisiatif sendiri saja untuk berganti alas kaki, hitung-hitung menghormati rumah ibadah agama lain.


Sepanjang bagian dalam gereja berlangit-langit supertinggi ini terdapat beberapa bilik-bilik terpisah, lengkap dengan altar dan patung yang berbeda-beda. Saya yang kurang mengerti segera bertanya pada Geges yang pastinya lebih tahu. Sebagai pemeluk agama Islam yang mengunjungi rumah ibadah agama Katolik bersama seorang pemeluk agama Protestan, saya jadi mendapat banyak pengetahuan baru akan perbedaan agama Katolik dan Kristen Protestan. Bilik-bilik tersebut dilengkapi dengan lilin-lilin kecil seharga 2 Euro yang dapat dinyalakan untuk berdoa. Konsepnya seperti kantin kejujuran. Tidak ada yang menjaga lilin-lilin tersebut, tetapi pengunjung tentunya tahu diri untuk memasukkan 2 Euro ke dalam stoples apabila memang mengambil lilin tersebut. Selain lilin kecil seharga 2 Euro ada pula lilin besar seharga 5 Euro yang dimasukkan ke dalam gelas plastik bertutup. Selain digunakan untuk berdoa, take-away-candle ini juga dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Setelah memasukkan 5 Euro ke dalam stoples, saya segera mengambil sebuah lilin dan memasukkannya ke dalam tas.


Rencana semula, kami akan langsung berangkat ke Versaille sekeluarnya dari Notre Dame. Apa daya godaan penjaja souvenir di sepanjang jalan di seputaran Notre Dame membuat kami kewalahan dengan belanjaan dan terpaksa pulang ke hostel dulu. Begini nih untungnya ambil hostel yang dekat. Karena pulang ke hostel lagi sama dengan tersitanya waktu yang seharusnya dialokasikan ke Versaille, kami pun sedikit bergegas menuju metro. Lagi-lagi kami tersesat dan entah bagaimana terdampar sampai di stasiun Invalides dan membaca sebuah pengumuman di ticket office bahwa ... jreng jreng ... hari itu Versaille tutup. Hahaha, nggak lagi-lagi deh berwisata dengan survei ala kadarnya. Lain kali benar-benar harus mempersiapkan sedetail-detailnya, hufff. Keluar dari stasiun Invalides tanpa ada ide mau berwisata ke mana, akhirnya kami memutuskan untuk walking tour lagi di seputaran stasiun. Bangunan mana yang kelihatan dari stasiun dan kayaknya menarik, ya udah deh itu yang disamperin. Di ujung kiri sana ada Les Invalides dan di kanan ada pasangan Grand Palais dan Petit Palais, faktor cuaca yang superrrpuanass akhirnya menuntun kami untuk memilih objek yang lebih dekat: belok kanan.


Berbeda dengan cuaca di Belanda yang autumn-nearing-winter berkedok summer, cuaca di Paris ini benar-benar summer sesummer-summernya: panas, silau, sumuk, gerah, dst. Sementara Geges masih semangat berjalan-jalan di depan Grand Palais, saya memilih ngeyup di Petit Palais sambil berusaha menelepon si pacar di ujung belahan dunia sana. Puas ngadem, kami melanjutkan perjalanan menuju Musee du Louvre melewati Luxor Obelisk dan masuk melalui Jardin des Tuileries, taman kota yang sangat luas, tempat beratus-ratus orang sedang berjemur. Kami yang berasal dari negara tropis dan bosan dengan sinar matahari setiap harinya hanya bisa berdecak heran melihat pemandangan tersebut. Di Jardin des Tuileries ini jugalah kami sempat melihat seseorang yang kejang-kejang ketika sedang berjemur. Kayaknya sih kena serangan panas. Orang itu segera ditolong dan kami melanjutkan perjalanan sambil merasa tidak enak karena pada awalnya kami dan orang-orang di sekitar mengira dia ini lagi maen teater! +_+ Sesampainya di Louvre kami cuma duduk-duduk sambil ngadem di pinggir kolam yang ternyata kotor penuh sampah :-S


E ya ampuuuun, kirain yang beginian cuma nemu di tanah air!

*to be continued*

Tuesday, September 27, 2011

Paris Day 1: Honeymoon with My Summer School Partner

Sudah tidak menjadi rahasia lagi bagaimana orang asing yang berkunjung ke Perancis merasa kurang nyaman atas arogansi bahasa yang dimiliki warganya. Orang-orang Perancis memang terkenal malas diajak bicara selain dengan bahasa mereka sendiri (Titi Sari A K, 2011).

Yang di atas ini merupakan kutipan dari Belanda: Merangkul Dunia dengan Bahasa, artikel yang mengantarkan saya berangkat menuju Eropa. Jadi bisa dibilang saya bisa ke Eropa kemarin gara-gara ngeledekin Perancis, hahaha... Tapi ngeledek bukan berarti antipati. Toh biar saya ledekin kayak apa, di tulisan kemarin saya malah nulis: satu-satunya kota yang ingin dan harus saya sambangi sewaktu mumpung-sudah-di-Eropa kemarin cuma Paris. Daya tarik kota ini memang terlalu kuat untuk diabaikan. Dan saya tidak sendirian. Lihat saja teman-teman saya yang melanjutkan studinya ke Eropa. Tidak sampai sebulan sejak kedatangan mereka untuk menuntut ilmu di negara mana pun di Eropa, profile picture facebook mereka rata-rata langsung berubah dengan latar belakang Eiffel, Eiffel, dan Eiffel.

kalau si Mpus punya facebook, pp-nya akan seperti ini

Meski akan menjelajahi kota ini bersama-sama, saya dan Geges menaiki kereta menuju Paris dengan jadwal yang berbeda. Cara yang sama juga kami lakukan sewaktu melakukan perjalanan dari Utrecht menuju Brussels. Bedanya, kalau Utrecht-Brussels saya berangkat duluan, untuk Brussels-Paris giliran Geges-lah yang berangkat duluan. Sesampainya saya di Gare du Nord, sudah ada sms dari Geges yang mengabarkan bahwa dia sedang mengantre untuk menanyakan EuroPass-nya. Saya pun segera ikut mengantre di tempat lain, mengurusi nasib mobilitas saya dua hari ke depan. Di ticket centre di lantai bawah saya membeli tiket Paris Visite untuk 2 hari seharga 15,2 Euro. Sekilas melihat peta metro + RER yang disertakan, sepertinya saya akan menikmati proses wira-wiri di kota ini :)

Paris Visite Pass

Peta Paris Metro: semakin ruwet semakin asyik! ;D

Belajar dari pengalaman mencari metro di Brussels dan didukung dengan petunjuk yang jelas, dengan mudah saya dan Geges kemudian menemukan pemberhentian metro no. 5 yang nantinya akan membawa kami ke stasiun Gare d'Austerlitz. Pada awalnya, metro no. 5 ini hanya melewati jalur bawah tanah sehingga tidak banyak pemandangan menarik yang bisa kami nikmati. Tetapi kejutan menanti setelah metro melewati stasiun Quai de la Rapee, metro kami melewati jembatan di atas Sungai Seine: cantiiiik :) Berada di atas metro yang berjalan kencang melewati jembatan terbuka yang berderak-derak rasanya mirip-mirip naik roller coaster :p Begitu turun di Gare d'Austerlitz kemudian kami berganti metro no. 10 yang akan membawa kami ke Maubert Mutualite, stasiun terdekat dari hostel tujuan kami: Hotel du Commerce.

Hotel du Commerce

Setelah sedikit tersesat (LAGI!) kami akhirnya menemukan Hotel du Commerce, sebuah bangunan putih beraksen kanopi hijau di antara jajaran beberapa restoran Vietnam dan Tibet. Tidak berlama-lama di hostel, kami segera berangkat untuk mengeksplorasi kota ini lebih lanjut. Terbayang-bayang dengan kelezatan farewell dinner kami di La Fontana - Utrecht, kami sepakat mencari pizzeria sejenis. Untungnya pizzeria seperti ini cukup gampang ditemukan. Semula kami memilih tempat di dalam, tetapi begitu kursi-kursi di luar kosong kami segera pindah. Cukup banyak turis yang kemudian berhenti karena tertarik untuk ikut membeli pizza setelah melirik-lirik kami yang makan dengan lezatnya :D Dengan peta metro di tangan dan setengah loyang pizza di perut, kami memulai eksplorasi kali ini dengan mengunjungi Eiffel. Belum tenang rasanya berada di Paris kalau belum melihat pucuk Eiffel sama sekali. Dari Maubert Mutualite, kami segera mengambil metro no. 10 menuju La Motte Picquet Grenelle untuk kemudian berganti metro no. 6 menuju Bir-Hakeim. Sama seperti jalur no. 5, jalur no. 6 ini tak melulu berada di bawah tanah. Semakin mendekati Eiffel, kami melewati jalur terbuka dengan berbagai bangunan di kanan-kiri kami. Inilah yang membuat saya ribut sendiri di dalam metro, celingak-celinguk mencari pucuk Eiffel sambil sedikit-sedikit bertanya pada Geges, "Mana sih Eiffel-nya? Mana sih?". Bagi saya, momen melihat Eiffel untuk pertama kalinya itu cukup penting :D Turun dari metro, kami belum juga berhasil melihat Eiffel. Saking bersemangatnya, kami sampai setengah berlari mendahului kerumunan orang yang kami yakini juga sama-sama menuju Eiffel. Setelah beberapa saat ... nah itu dia! Pucuknya masih mengintip malu-malu, tetapi semakin kami mendekat, semakin tampaklah kegagahannya. Apalagi sewaktu berada persis di bawahnya: WAAAAAHHHHHH!!!

'dipekangkangi' si Iron Lady

Dan sekarang saatnyalah mewujudkan mimpi saya: tiduran di atas rumput Paris sambil nontoni Eiffel!! :D Saya segera melangkahkan kaki menuju Champ de Mars, menyusul ratusan manusia di sana yang sudah leyeh-leyeh dengan santainya. Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, orang-orang yang tiduran di sekitar kami kebanyakan datang berpasangan. Nggak heran lah, ini Paris: the city of lovers & the most romantic place on earth! Kota terfavorit untuk berbulan madu. Sudah tidak terhitung berapa kali saya nemu orang ciuman dengan santainya. Baik itu sedang leyeh-leyeh, jalan-jalan, berdiri menunggu metro, ataupun duduk di dalam metro. It's almost everywhere!

hiasan dinding di pizzeria, bukti Paris si kota cinta

Puas tidur-tiduran dan langit mulai menggelap sementara kami baru dapat satu objek, kami segera melanjutkan perjalanan ke Arch de Triomphe. Dari Eiffel kami berjalan kaki menuju Trocadero melewati Pont d'Iena yang membelah Sungai Seine. Taman di Trocadero ini cantiiiiik sekali, lengkap dengan air mancur dan puluhan orang yang sunbathing walau hari mulai menggelap. Dari Trocadero kami menaiki metro no. 9 menuju Champs Elysees untuk selanjutnya berjalan sepanjang jalan-paling-mahal ini menuju Arc de Triomphe di ujung jalan. 

Arc de Triomphe dari Champs de Elysees

Selama berjalan, kanan-kiri kami penuh dengan toko elite nan wah. Sebagai wanita akhirnya kami tergoda untuk memasuki salah satunya, Sephora, tempat Geges membeli entah apa (foundation?? :p) sementara saya hanya sampai tahap nyaris tergoda membawa pulang satu set miniature-perfume. Kelelahan menyusuri Champs Elysees yang puanjaaang, kami langsung mencari tempat duduk begitu Arc de Triomph sudah di depan mata. Di sini kami tidak sesemangat tadi untuk berfoto-foto karena selain capek, foto yang dihasilkan selalu kurang memuaskan karena selalu adaaaa saja orang lain yang ikut terfoto. Mengingat tujuan kami besok ada di pinggiran Paris, kami segera turun ke stasiun terdekat untuk pulang ke hostel tanpa ke mana-mana lagi. 


Arch de Triomphe yang berada di tengah sebuah perduabelasan

Tunggu kami besok, V e r s a i l l e ...

Thursday, September 15, 2011

There's A Conspiracy Against Me in Brussels

Ups, sementara rekan summer school saya sudah bisa bercerita sampai Swiss dan bahkan sudah kembali ke Belanda lagi, saya baru akan bercerita tentang ...


Senangnya ikut summer school hadiah dari NESO kemarin adalah saya dan Geges bebas menentukan mau pulang kapan. Pihak NESO tinggal menyesuaikan pemesanan tiket pesawat sesuai keinginan kami: 17 Agustus untuk saya dan 24 Agustus untuk Geges. Yap, dengan beberapa pertimbangan saya memang memutuskan untuk tidak berlama-lama extend di sana. Toh buat saya lima hari sudah cukup karena sebenarnya satu-satunya kota yang ingin dan harus saya sambangi sewaktu mumpung-sudah-di-Eropa kemarin cuma Paris. Saya harus mampir tiduran di atas rumput Paris sambil nontoni Eiffel. Titik.


Berhubung saya berencana menggunakan Thalys dan kalau dari Belanda mau ke Paris lewat Belgia, saya pun memutuskan untuk mampir barang sehari di ibukotanya: Brussels. Sebatas itu sajalah fungsi Brussels bagi saya: kota transit. Karena merupakan kota iseng-iseng itulah saya pun menyepelekan persiapan ke sana. Survei yang saya lakukan sebatas browsing hostel dan peta. Saya semakin menyepelekan sewaktu saya nemu peta Brussels yang cukup mencerahkan di sebuah website unyu. "Brussels kecil kok, ke mana-mana bisa jalan kaki katanya. Gampang lah nanti," pikir saya waktu itu. Begitu tiket kereta sudah dipesan dan booking hostel sudah dilakukan, barulah saya sedikit melakukan survei lagi dan tiba pada sebuah artikel di internet yang berjudul ... jreng jreng jreng ...

Brussels: Most Boring City in Europe

Zzzzzz... Dari begitu banyak pilihan kota di Eropa kenapa juga kota yang mau saya kunjungi justru kota yang menurut survei paling membosankan? Hahaha *ketawa datar* Sebenarnya saya nggak masalah sih Brussels ini kota yang kayak apa, motivasi awal saya toh cuma menjadikan Brussels sebagai kota transit, jalan-jalan sedikit, kalau capek ya tidur. Masalahnya saya ke Brussels bersama Geges dan bisa dibilang Geges ke Brussels karena saya. Saya jadi semacam bertanggung jawab atas menarik tidaknya kota ini dan merasa bersalah begitu tahu kalau ternyata kota ini tidak begitu menjanjikan :-S Ketidakmenarikan kota ini bahkan sudah diiyakan oleh Geges melalui blognya :p Karena sudah tahu dari awal bahwa Brussels kota membosankan, saya jadi tidak terlalu berharap banyak dari kota ini. Kadang dengan mempersiapkan ekspektasi yang serendah-rendahnya, seseorang jadi bisa lebih menikmati sesuatu yang akan dihadapinya. Sayangnya masalah ekspektasi-serendah-rendahnya itu pun tidak banyak membantu. Cukup banyak kejadian yang tidak mengenakkan terjadi di Brussels, misalnya:

1. Dalam rangka mencari metro, saya dan Geges keluar dari Gare du Midi dan baru beberapa detik berjalan ... terciumlah bau pesing! Menurut saya apa yang berada di sekitar stasiun sangat penting. Apa yang dilihat, dicium, didengar, dan dirasakan pertama kali begitu datang di sebuah kota baru sangat berpengaruh untuk membentuk keseluruhan kesan kota tersebut. Visitor Centre tepat di luar stasiun Leiden Centraal memberikan kesan tourist friendly. Bau pesing yang tercium tepat di luar Gare du Midi? -_-"


2. Masih dalam rangka mencari metro, saya dan Geges menunggu di pinggir sebuah pemberhentian di luar Gare du Midi. Ini pun atas petunjuk dari seseorang berseragam yang sempat kami tanyai. Di sini kami celingak-celinguk cukup lama. Segala peta dan petunjuk yang ada di papan tidak mencerahkan, mau mengambil kendaraan yang mana dan ke arah mana saja kami tidak tahu. Beberapa kali bertanya kepada orang sekitar juga sama sekali tidak membantu. Akhirnya saya mengalami sendiri apa yang saya sebut-sebut di artikel kompetiblog saya. Nanyanya pake bahasa apa, jawabnya pake bahasa apa. Bahkan ini saya belum sampai di Perancis -_-" Intinya kami kebingungan dan frustrasi. Kami sempat berjalan menjauhi Gare du Midi, kesasar, dan memutuskan untuk kembali lagi. Saya sampai sms2 minta bantuan ke si pacar di Sydney sana. Jauh amat minta bantuannya ya? Hahaha, namanya juga frustrasiii. Sama-sama capek dan bete bikin suasana antara saya dan Geges jadi agak nggak enak. Yak, selama dua minggu summer school hahahihi bersama tidak ada konflik apa-apa, begitu sampai di Brussels kami langsung 'sedikit berantem' :p Oh ya, dan ternyata yang namanya metro itu pemberhentiannya masih ada di dalam kawasan Gare du Midi. Jadi dari tadi saya dan Geges ke luar stasiun berjam-jam itu ternyata sia-sia belaka -_-"

Peta Brussels metro

3. Setelah keluar dari bencana kesasar dan berhasil menemukan hostel, kami leyeh-leyeh cukup lama untuk meredakan frustrasi. Pukul 6 kami sudah ada janji dengan Mirim, Chloe, dan Ben, teman-teman USS yang juga sedang ada di Brussels, untuk bertemu di Starbucks Gare Centrale. Ben yang sudah lebih lama bermalam di Brussels otomatis menjadi pemandu kami. Sebagai satu-satunya cowok di kelompok kami, dia membuktikan teori man, spatial ability & sense of direction-nya dengan sebentar-sebentar bilang this way ... this way... sambil melangkahkan kaki tanpa ragu di jalanan Brussels yang menurut saya membosankan mirip satu sama lain: jalan sempit dikelilingi gedung-gedung tua nan tinggi & rawan bikin kesasar. Objek wisata yang ditawarkan Brussels pun menurut saya tidak terlalu menarik. Bagi saya Grand Place (Grote Markt), maaf, biasa saja :p Manneken Pis yang jadi simbol kebanggaan kota ini pun tidak terlalu mengesankan. Saya sudah mendengar sih kalau banyak yang kecele dengan ukurannya, tetapi saya juga nggak menyangka kalau Manneken Pis memang sekecil 'itu' :p

overrated size Manneken Pis (wikipedia.org)

Jeanneke Pis (1985), a counterpoint in gender terms to Manneken Pis (bruselas.net)

yaestaellista.com

4. Puas melihat-lihat Grand Place, kami memutuskan untuk makan malam di gang sekitar Grand Place. Kebingungan memilih restoran yang menawarkan menu yang mirip-mirip, kami akhirnya memilih sebuah restoran yang menawarkan paket dengan harga paling terjangkau: 12 Euro/paket komplet dari appetizer, main course, dessert, sampai minuman. Meskipun berlima kami hanya memesan tiga paket dan sepertinya itu pilihan yang salah karena selama memesan dan makan kok kami jadi dilayani dengan tidak begitu baik: pelayan yang tak segera mengerti apa pesanan kami, pesanan yang tak kunjung datang, begitu pesanan datang pun pelayan menyampaikan dengan cara yang tidak begitu menyenangkan--sedikit menggebrak meja, senggal-senggol alat makan, dan tanpa senyum atau sekadar berbasa-basi mengucapkan smakelijk eten/bon appetit. Kami berlima sampai menelaah lebih lanjut kenapa kami diperlakukan seperti ini. Apakah karena: (a) Kami berlima tapi kok cuma memesan tiga paket, (b) Kami orang Asia, rrrr atau (c) Memang budaya mereka tidak menempatkan pembeli sebagai raja. Yang mana pun jawabannya, kesan dari restoran itu cuma satu: marmos. Marai emosi :-S


Semarmos apa pun Kota Brussels untunglah ada beberapa fakta kecil yang sedikit memberikan poin positif, misalnya:

1. Makanan di sini enak-enak, lebih cocok di lidah saya daripada yang ada di Belanda :p Waffle-nya (1,8 Euro) hangat dan lezat, manisnya pas. Cokelatnya juga enak, manisnya lain, nggak bikin eneg. Konon cokelat Belgia adalah cokelat terlezat di dunia, satu peringkat di atas cokelat Swiss. Hidangan dari restoran menyebalkan itu pun sebenarnya enak-enak. Sayangnya saya kelupaan nggak ngicip kentang goreng di sini :-S

The most delicious chocolate in the world?

2. Harga kartu pos di sini paling murah dibandingkan dengan di Belanda dan Perancis! Ini jelas poin penting bagi kolektor kartu pos kayak saya :p Saya sudah bisa membawa 12 kartu pos hanya dengan membayar 3 Euro, hampir sama dengan harga kartu pos di Indonesia. Di Belanda dan Perancis, dengan 3 Euro saya hanya dapat sekitar 3 kartu pos saja :-S Selain murah, beberapa kartu pos di Brussels juga bertema, mmmm ... 'unik' :|

3. Beruntung kami mendapatkan hostel yang sangat nyaman. Letaknya cukup strategis (dekat Stasiun Rogier). Dengan membayar 33 Euro per orang per malam, kami mendapatkan kamar twin private yang nyaman lengkap dengan kamar mandi yang cukup luas dan bersih. Sesuai namanya, Sleep Well, saya bisa tidur nyenyak di hostel ini baik saat siang (istirahat sebelum bertemu Mirim dkk.) maupun malam. Para pegawainya baek2 dan yang paling saya suka dari hostel ini adalah: ADA LIFT! (Fasilitas yang bakal saya rindukan di hostel-hostel saya selanjutnya -_-") Paginya kami juga mendapat sarapan yang enak sebagai bekal kekuatan untuk melanjutkan perjalanan ke Paris.

Sleep Well Hostel

Check out dari hostel dengan perut kenyang keesokan harinya membuat suasana hati saya cukup membaik. Rasanya Brussels nggak jelek-jelek amat lah. Dengan langkah ringan saya berjalan dari hostel ke Stasiun Rogier untuk selanjutnya menaiki metro tujuan Gare du Midi dan dari sana lanjut naik Thalys ke Kota Paris. Memasuki lorong Stasiun Roger yang kusam, semrawut dengan kabel dan bahan bangunan berserakan sehingga memberi kesan 'belum jadi' membuat suasana hati saya mulai berubah. Dan puncaknya adalah sewaktu ... ciittt ciittt kress ...

OH. 

MY. 

GOD. 

Sepatu saya nginjek tikuuuuusssssssssssss!! Saya langsung teriak histeris dan lari terjijik-jijik. Dua orang cewek yang lagi jalan di situ plus Geges sampai kebingungan saya itu kenapa. Melihat sedikit noda darah di sepatu saya, saya jadi kasihan sama si tikus. Biasanya saya tipe orang yang nggak tegaan sama hewan, tapi untuk kali itu nggak ngerti deh nasib tikus yang lagi jalan-jalan santai kemudian saya injek itu gimana. Saya nggak berani nengokin. Maaf ya, Kus T_T Dan untuk kamu, Brussels, sepertinya saya trauma mengunjungimu lagi. Kamu sudah tidak tertolong. There must be something wrong with youuuu x(

Really? -_-"