make
every second
count
titish!

recently
Proofreading
Foucault's Pendulum
Umberto Eco
Reading
Best Kept Secrets
Sandra Brown
Receiving
Pasar Apung
from: Indonesia
Sending
Laugh Out Loud Each Day
to: Taiwan
Watching
Paranormal Activity
foot prints

paste html code

chatter box


Titish's bookshelf: read

Detektif Conan Vol. 62
Hai Miiko! 22
Filsafat Dunia Matematika: Pengantar untuk Memahami Konsep-konsep Matematika
Rp 2 Jutaan Keliling Vietnam dalam 15 Hari
SuperMiring Family
Mengenal Masyarakat Belanda
Panduan Hemat Keliling Australia
malu bertanya (bisa) sesat pikiran
The Joy Luck Club; Perkumpulan Kebahagiaan dan Keberuntungan
Eurotrip: 15 Hari Jelajahi 5 Negara 9 Kota
Secret Princess
Panduan Hemat: Keliling Amsterdam, Brussel, Paris, Luxemburg & Trier
Detektif Conan Vol. 61
The Unbearable Lightness of Being
Manusia Ulang-Alik: Biografi Umar Kayam
Detektif Conan Spesial Vol. 35
Kota Antah Berantah
Rp2 Juta Keliling Thailand, Malaysia, & Singapura
Lukisan Hujan
Detektif Conan Vol. 60


Titish AK's favorite books »
}
Friday, September 02, 2011 @ 3:26 AM
USS'11 - C 43
Selamat dini hari dari Nogosaren Lor!

Ke mana saja selama ini, Titish??? Huhuhu, maafkeun sudah lama menghilang tanpa kabar. Jujur, selama summer school saya cukup kesulitan mencari waktu untuk menulis karena aktivitas lumayan padat. Begitu ada waktu (semasa extend di Brussels & Paris), giliran internet yang susah dicari. Berhubung sudah pulang ke Indonesia lagi dengan keleluasaan waktu & koneksi, juga sudah Idul Fitri (hubungannya??), saya usahakan akan mulai rajin menulis lagi. Mumpung ingatan-ingatan akan berbagai peristiwa di sana juga masih menempel di kepala :)

Utopian vs Dystopian

Karena sudah menyinggung padatnya aktivitas summer school di sana, blog ini akan mulai saya tulisi lagi dengan cerita mengenai kelas yang saya ambil, Dutch Culture: Society & Current Issues. Hari pertama dimulai dengan gambaran umum perspektif masyarakat internasional terhadap negara Belanda. Berhubung kelas internasional, Maarten--sang instruktur--tinggal menanyai kami yang berasal dari negara yang berbeda-beda ini secara acak mengenai apa yang kami pikirkan pertama kali tentang Belanda. Tulip, cheese, Gay Parade, windmill, Red Light District adalah beberapa jawaban yang terkumpul dari sekian banyak sudut pandang negara. Jawaban yang bermacam-macam itu rupanya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hal-hal yang terdengar baik dan menyenangkan (utopian) dan hal-hal yang terkesan buruk dan jelek (dystopian). Dari koleksi kartu pos Belanda saya berikut pun seharusnya saya sudah bisa melihat hal ini:

international image (utopian)

vs

international image (dystopian)

Dengan materi-materi yang secara padat disampaikan selama dua minggu, kami, peserta kelas berkode C 43 yang hampir semuanya merupakan non-Dutch ini jadi lebih memahami Belanda dan berbagai aspeknya: mulai dari love-and-hate-relationship mereka dengan air, kecintaan mereka akan keluarga kerajaan yang sebenarnya nyaris tidak punya kekuasaan, seluk-beluk nasib imigran dan kedudukan Islam di sana,dan tentunya tak lupa membahas lebih mendalam akan sikap permisif mereka terhadap berbagai ethical issue (drugs, prostitution, euthanasia, abortion, same-sex marriage) yang berdampak langsung terhadap pandangan buruk masyarakat internasional kepada negara mereka (dystopian image) tersebut. Mereka berprinsip bahwa daripada berbagai ethical issue itu disikapi oleh masyarakat secara tidak bijak, lebih baik pemerintah turut mengatur dalam bentuk legalisasi yang bertanggung jawab. Forbidden fruits will be eaten anyway.

Photo courtesy of Inne Ongkodjojo

Liburan Berkedok Summer School

No matter what country you are from, you are bound to experience a culture shock. It is as simple as that. In general students will go through three phases: the so-called honeymoon phase, the I-hate-this-country phase and finally the adjustment phase. During the first phase you will probably like and feel excited about everything you see, hear and experience while in the second phase things might suddenly start to annoy you. By that time you might be feeling homesick, you might be missing your home country, family and friends. During the third phase you will acknowledge the cultural differences and see the benefits of living in the Netherlands. At the same time you will hopefully be able to look upon any downsides more objectively. During this phase students are usually better able to reflect on their own cultures (Your Practical Guide to Living in Holland, p.2).

buku imut pemberian NESO

Kalau dihubungkan dengan teori-tiga-fase yang ada di buku yang saya khatamkan ketika menunggu kereta di Stasiun Gambir lebih dari sebulan yang lalu di atas, mengikuti USS ini rasanya seperti mendapat kesempatan untuk merasakan pendidikan di Belanda dengan cara curang. Kenapa curang? Karena masa belajar yang amat singkat sama artinya dengan kegiatan serbapadat, memanfaatkan waktu setiap detiknya untuk mengeksplorasi negara ini sebaik-baiknya. Setiap hari berasa liburan karena rasanya seperti turis yang mendatangi berbagai tempat baru untuk mencoba hal-hal baru. Dua minggu keberadaan saya di sana isinya honeymoon phase semua dan begitu masa summer school saya sudah habis, saya pergi tanpa sempat mengalami I-hate-this-country phase. Belum sempat memasuki masa bersusah-susah saya keburu pulang! :) Curang, bukan? :D Tidak seperti program bachelor atau master, summer school memang dirancang untuk 'memanjakan' para pesertanya. Di USS, misalnya, nyaris setiap hari selalu ada social program yang difasilitasi, seperti ekskursi ke berbagai kota di Belanda, cycling tour, schavenger hunt, poker night, sailing, night canoeing, traditional Dutch picnic, salsa workshop (!), dan masih banyak social program lainnya yang semakin membuat kita bingung "ini kita lagi sekolah atau liburan sih?" :p

Janskerkhof 30, summer school office

Utrecht Summer School merupakan summer school TERBESAR di Eropa yang berdiri pada 1987 sehingga USS tahun 2011 yang saya ikuti kemarin adalah USS yang ke-25! Memang kerasa sih kalau penyelenggaranya sudah berpengalaman. Para staf yang ngantor di Janskerkhof 30 sangat suabaarr menghadapi saya yang sering merepotkan: mengurusi refund social program yang jadwalnya bentrok, mengganti coupon booklet lama saya yang sobek-sobek kena tumpahan air mineral dengan yang baru, dan jasa terbesar adalah tempat penitipan koper berhari-hari yang AMAN dan GRATIS selama saya liburan ke Brussels dan Paris! Sepulangnya ke Indonesia pun saya masih rewel via email meralat alamat pengiriman transkip nilai dan responsnya ... whuzz whuzz whuzz ... amat memuaskan.

free entrance museum, discount, etc & yg langsung berguna pada hari pertama: simcard Lebara!

A Goal is a Dream with a Deadline

Mencicipi pendidikan di Belanda dalam waktu singkat membuat saya ingin belajar di sana lagi dalam waktu yang lebih lama. Sekilas mengunjungi Belgia dan Perancis membuat saya semakin yakin untuk tidak berpindah ke negara lain. Yap, meskipun rencana awal saya untuk mengambil master di Belanda melalui HSP gagal karena beasiswa tersebut keburu ditiadakan, mimpi untuk melanjutkan master di sana itu masih ada. Ada yang mau berjuang bersama saya? Yuk, mulai bergerak sekarang juga. Langkah pertama yang tepat untuk semakin mendekatkan diri dengan Belanda menurut saya adalah berkonsultasi dengan NESO Indonesia! :)

Labels:

1 attention(s)
monthly archive

December 2006 January 2007 February 2007 March 2007 April 2007 May 2007 June 2007 July 2007 August 2007 September 2007 October 2007 November 2007 December 2007 January 2008 February 2008 April 2008 May 2008 June 2008 July 2008 August 2008 September 2008 October 2008 November 2008 January 2009 February 2009 March 2009 May 2009 June 2009 July 2009 August 2009 October 2009 December 2009 January 2010 February 2010 April 2010 May 2010 June 2010 July 2010 November 2010 February 2011 June 2011 July 2011 August 2011 September 2011 October 2011 November 2011 February 2012
recent entries

I Wanna Be A Kangaroo with You Always in My Pouch Fun Facts about Utrecht (1): Rietveld Schröder Hou... Doa Itu Harus Eksplisit Maen ke Leiden Di Belanda dengan Jilbab di Kepala Hura-Hura dengan Makanan Indonesia Beneluxlaan Life Begins at the End of Your Comfort Zone Tanggal Sembilan Bulan Keenam Silam Bike to Eat #1: Mangut Lele Nasi Jaya