Monday, May 21, 2012

Dunia yang Lengang

(drpinna.com)
Tak semua lulusan Sastra Indonesia jago dalam mengapresiasi puisi. Saya contohnya. Tak banyak puisi Indonesia yang benar-benar saya suka. Dugaan saya penyebabnya bisa dijabarkan dalam tiga hal berikut: (1) khazanah perpuisian Indonesia saya yang memang tak banyak, (2) saya ini terlalu ndableg sehingga tak mudah disentil puisi, dan (3) otak saya memang ra nyandak untuk mencerna kata-kata sulit.

Dari sedikit puisi yang saya tahu tersebut, favorit saya ada dua: "Rumah" (Toto Sudarto Bachtiar) dan "Surat Amplop Putih untuk PBB" (Taufiq Ismail). Itupun hanya beberapa penggal kalimat, bukan keseluruhan puisi.

Terkadang sebelum masuk rumah
Aku melihat ke atap dan bertanya-tanya
Adakah dia di dalam, masihkah dia cinta
Alangkah besar rasanya hidup, bila hatiku tak gelisah
(Toto Sudarto Bachtiar)

Bersama surat ini kukirimkan ludahku padamu.
(Taufiq Ismail)

Sampai akhirnya saya menemukan sebuah puisi karya M. Aan Mansyur yang saya suka semua kalimatnya. Secara keseluruhan. Bukan dalam penggalan-penggalan.

Dunia yang Lengang

sebuah usaha, agar orang-orang
lebih banyak bicara dengan mata,
pemerintah membuat aturan ketat:
setiap orang hanya berhak memakai
seratus tiga puluh kata per hari, pas.

jika telepon berdering, aku meletakkan
gagangnya di telingaku tanpa menyebut halo.
di restoran aku menggunakan jari telunjuk
memesan mi atau coto makassar. aku secermat
mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat.

tengah malam, aku telepon nomor kekasihku
di jakarta, dengan bangga aku bilang padanya:
aku menggunakan delapan puluh sembilan
kata hari ini. sisanya kusimpan untukmu.

jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti
ia telah menghabiskan semua jatahnya,
maka aku pelan-pelan berbisik: aku
mencintaimu. sebanyak lima belas kali.

setelah itu, kami hanya duduk membiarkan
gagang telepon di telinga kami dan saling
mendengar dengus napas masing-masing.

Nice, eh? :)