Thursday, October 20, 2011

Kedai Kebun Restaurant

Dalam rangka menyambut kedatangan pacar, saya sudah mengumpulkan beberapa kupon makan yang saya beli dari layanan social buying semacam DealKeren dan MbakDiskon. Kupon yang saya kumpulkan tentunya kupon yang masih berlaku ketika si pacar berada di sini. Sejauh ini sih sudah terkumpul kupon-kupon dari 6 rumah makan. Jumlah ini jelas masih akan bertambah karena setiap minggunya selalu ada deal baru sementara si pacar masih pulang sekitar 7 minggu lagi. *Urusan gendut dipikir belakangan :p* Keburu kelaparan menunggu si pacar yang tak kunjung datang, akhirnya saya kemarin memutuskan untuk menggunakan beberapa kupon dulu. Berhubung kupon terbanyak yang saya beli adalah kupon dari Kedai Kebun Restaurant (4 kupon), ke sanalah saya memanfaatkan 2 kupon dengan mengajak pacar cadangan saya yang di sini, lolz. Dua kupon lainnya saya sisakan untuk dinikmati bersama si pacar asli :D

Kedai Kebun Restaurant, Jl. Tirtodipuran 3

Kedai Kebun terletak di daerah Tirtodipuran, sejalan dengan K'Meals dan dekat dengan kawasan Prawirotaman, tempat ViaVia dan rumah makan berharga wow lainnya berada. Kawasan ini memang terkenal dengan tempat home stay para bule sehingga harga makanannya ya-gitu-deh. Ini bukan kali pertama saya mengunjungi Kedai Kebun. Bertahun-tahun lalu saya pernah ke sini bersama teman-teman SMA untuk menonton pertunjukan tari yang dipanitiai oleh pacar salah satu teman. Meski sekarang sudah menjadi mantan pacar, mereka tetap berhubungan baik karena harus tinggal serumah. Yap, mereka sudah menikah :D *Ini kenapa malah jadi nggosipin temen -_-"* Anyways, Kedai Kebun Restaurant ini memang semacam teras dikelilingi tanaman yang menempel pada rumah yang diperuntukkan untuk pertunjukan kesenian dan ruang pameran. Sesuai dengan ketentuan penggunaan kupon, sebelumnya saya telah melakukan reservasi untuk lunch date di sana. Siang itu kami berdua mengambil tempat di lantai atas dan menjadi tambahan dari seumprit pengunjung pribumi di situ. Setelah cukup lama membolak-balik buku menu sambil mengawang-awang harga total agar tidak jauh meleset dari nilai 2 kupon yang saya kantongi (30 ribu/kupon), saya akhirnya memesan menu-menu berikut:

dadar udang (28.000)

es cokelat (13.000)
Sementara teman kencan saya memesan:

mi goreng (20.500)

lime ginger honey (12.500) berlatar belakang si teman kencan

Ditambah dengan cemilan untuk berdua berupa:

bitterballen (14.000/5pcs), yang satu sudah masuk perut

Sewaktu memesan dadar udang, saya ditawari mau pake nasi atau nggak dan saya bilang 'nggak'-nya kayaknya agak lebay deh (Yes, I'm on diet), si bule di sebelah sampai nengok. Meski sok lagi diet, godaan es cokelat tetap tidak tertahankan. Jogja panasnya ngentang-ngentang, cing! Dadar udangnya enak karena ada udangnya (zzz), mi gorengnya juga enak (--> komentar dari seseorang yang bukan penggemar mi), sementara bitterballen-nya rasanya sama persis kayak kroket. Nggak ngerti deh harusnya bitterballen rasanya kayak gimana. Saya sempat ngicipin bitterballen asli sewaktu di Den Haag sana, tapi rasanya kayak apa sudah menghilang dari memori kepala +_+

Setelah puas makan dan nggosipin topik yang sangat bermutu (baca: skripsi) tibalah saatnya membayar di lantai bawah. Total makan siang kami kali itu adalah 88.000 dikurangi nilai 2 kupon sehingga kurang 28.000. Si teman kencan berinisiatif nomboki 20.000 sehingga saya seharusnya tinggal mengeluarkan 8.000 saja. Digunakan kata 'seharusnya' karena ... di dekat kasir ada kartu pos yang dijual doongggg. Harusnya saya tidak heran kalau restoran yang juga tempat pameran dan pertunjukan seperti Kedai Kebun juga menjual kartu pos sehingga ada antisipasi terhadap godaan kartu pos yang ngawe-ngawe minta dibeli. Berhubung kartu-kartu itu begitu lihai menggoda, saya akhirnya menyambar tiga seri kartu pos pameran yang masing masing dijual seharga 30.000, 15.000, dan 3.500. Penggunaan kupon diskonan pun akhirnya terbukti gagal mendukung program pengiritan +_+

Sampai jumpa di wisata kuliner diskonan selanjutnya, yang semoga sudah bersama pacar :)

Wednesday, October 05, 2011

Leaving Paris: Save The Worst for Last

Sekitar dua minggu yang lalu saya tidak sengaja menonton ulang film The Da Vinci Code dan merasa girang karena sekarang lebih familiar dengan lokasi syutingnya *norak*. Beberapa hari kemudian lagi-lagi saya tidak sengaja menonton ulang film lain yang bersetting di Paris, yaitu Mr. Bean's Holiday. Namun, berbeda dengan The Da Vinci Code yang bikin girang, film yang seharusnya lucu ini justru bikin saya bete sebete-betenya. Semua itu gara-gara satu adegan yang mengingatkan saya pada satu-satunya hal yang ingin saya lupakan dari liburan kemarin di Eropa: adegan Mr. Bean ketinggalan kereta.


Melihat Rowan Atkinson berlari-lari mengejar kereta di Gare du Lyon mengingatkan saya akan rasanya ngos-ngosan setelah lari-lari di sepanjang rel Gare du Nord untuk kemudian mendapati fakta bahwa kereta yang akan membawa saya kembali ke Belanda sudah tidak terkejar lagi. Ya ampuuuunnnn, kejadiannya nyaris sama sehingga saya nontonnya penuh buruk sangka "Apa ya Mr. Bean's Holiday ini khusus dibuat untuk mengece sayaaaa" which is anakronisme karena saya liburan tiga tahun setelah Mr. Bean's Holiday diproduksi, zzz.  

oyya.tumblr.com

"Keretanya sudah berangkat. Kamu SUDAH telat tiga menit." Begitu kata petugasnya yang langsung menyadarkan saya bahwa: ini Eropa, Nona! Punctuality-nya bisa bikin orang Indonesia bergidik ngeri. Di Indonesia mungkin saya bisa bilang saya BARU telat tiga menit.

Berhubung tiket Thalys saya tidak fleksibel, ya sudah wasalam. Saya tidak bisa minta ganti. Ingatan akan senang-senang selama dua minggu di Eropa ke belakang seakan lenyap dan digantikan dengan kenyataan menjengkelkan bahwa sekarang saya di Eropa, sendirian, ketinggalan kereta, dan kalau harus beli tiket lagi entah bawa duit cukup atau tidak. Sambil menahan tangis pun saya segera mengantre di loket dan mendapatkan tiket seharga 3,5 kali tiket semula T___________T Sepanjang perjalanan Paris--Amsterdam saya cuma bisa mengelus-elus kursi sambil ngedumel dalam hati "mahal beneeeerrr buat bisa duduk di siniiii"

P.S. Kemarin saya janjian main ke kos teman, sang teman kaget bukan kepalang begitu membuka pintu gerbang dan mendapati saya datang tepat waktu. "Titissshh, aku belum mandiiii. Aku bilang jam sebelas soalnya biasanya kamu nyampe sini juga jam setengah dua belasan." :))

Monday, October 03, 2011

Eiffel, I Miss Him

Hati-hati! Ke kota paling romantis di dunia tanpa didampingi pasangan itu bisa bikin makan ati :D Berikut ini top three tempat romantis di Paris yang kemarin sempat saya kunjungi bersama Geges dan suatu hari nanti harus saya kunjungi lagi bersama pasangan. Amin! xD

3. Seine River Sightseeing


Sepulang dari Louvre, hari sudah semakin sore. Dari Jardin des Tuileries saya dan Geges mengarah ke Sungai Seine dan nongkrong di dekat jembatan Passerelle Léopold-Sédar-Senghor *beuh, namanya susahh +_+* Pantulan cahaya matahari di Sungai Seine yang cuantik ditambah dengan alunan musik jazz live rupanya memberikan efek tertentu. Di sini saya mendadak kangen sama si pacar, haha.

2. Paris Love Bridge

Puas thenguk-thenguk di pinggir kali, kami memutuskan segera pulang ke hostel untuk beristirahat dan melewati jembatan bernama susah tadi. Apa yang ada di sepanjang jembatan mulai menarik perhatian kami: love padlocks! Di Paris sendiri rupanya ada tiga jembatan tempat para pasangan "menggembok" cinta mereka, yaitu Passerelle Léopold-Sédar-Senghor, Pont des Arts, dan Pont de l'Archevêché. Di sana ada buanyaaak sekali gembok-gembok unyu bertuliskan sepasang nama. Saya bahkan sempat menemukan nama dua cewek dalam satu gembok :p


Geges kemudian mengusulkan agar saya melakukan hal serupa. Berhubung saya tidak membawa gembok ke mana-mana dan juga tidak membawa spidol permanen untuk melakukan vandalisme terhadap gembok-gembok berbahan logam yang sudah bercokol di sana, akhirnya saya mencari gembok yang ditempeli secarik kertas dan membubuhkan nama saya dan *uhuk2* nama pacar di dekat nama dua orang yang sudah ada di sana, zzzz... Beberapa hari sesudahnya pun saya bercerita kepada pacar dengan mengatakan "dalam hubungan kita sekarang ada empat orang" +_+

1. Eiffel @ Night


Eiffel pada malam hari adalah tempat yang HARUS, WAJIB, dan MUSTI dikunjungi bersama pasangan. Sebelumnya saya hanya tahu kalau Eiffel di saat malam memang dipenuhi lampu-lampu, tapi saya tidak menyangka kalau atraksi lampunya benar-benar cuantiiiiik sekaliiiii! Saya dan Geges sampai terbengong-bengong melihatnya. Atmosfer yang superromantis tersebut bikin saya refleks sms ke pacar bilang saya kangen dan sms balasan darinya adalah ...

Kena paris fever ya,hu