|
make
every second
count
|
titish! |
recently
Proofreading
Foucault's Pendulum Umberto Eco Reading Darren Shan #6 The Vampire Prince Darren Shan Receiving Vintage City from: Russia Sending Happy Family to: Netherlands Watching The Artist |
foot prints |
chatter box |
Wednesday, August 10, 2011 @ 6:32 AMI Wanna Be A Kangaroo with You Always in My Pouch
Sewaktu di tulisan ini saya menyinggung-nyinggung masalah 'beberapa teman yang bete setiap hari karena cuma bisa ketemu pacar sekitar setahun sekali', sebenarnya itu saya ngomongin diri saya sendiri, hihi ... Tidak seperti Gabriella yang bisa menikmati kota-kota cantik ini dengan Nicola, ataupun Emily yang bisa berbagi payung dengan Hank menyusuri jalanan di pinggir kanal dengan romantisnya, sedihnya si pacar tidak ada di sekeliling saya. Faktanya dia berada 16.658 km jauhnya. Pada awalnya saya pikir jarak tidak akan jadi masalah karena toh sebelum saya ke sini dia sudah berada 5.091 km jauhnya dari saya. Nambah 11.567 km tidak akan terlalu signifikan, dia sama-sama tidak bisa dipegang :p Tapi rupanya hambatan lain bisa dibilang sangat menyusahkan: time zone. Tidak seperti Sydney--Djogdja yang selisih waktunya masih cenderung bisa diikuti (3 jam), selisih waktu 8 jam antara Sydney--Utrecht ini benar-benar sungguh amat sangat memusingkan sekali x( Dia bangun saya baru mau tidur. Saya bangun dia sedang sekolah. Dia selesai sekolah saya baru mau sekolah. Saya selesai sekolah? Sudah waktunya dia tidur lagi. Argh, hari-hari pertama di sini saya sampai stres karena tidak bisa bertemu dengannya di dunia maya. Sampai-sampai rungon-rungon saya di sini tiap hari adalah lagunya Simple Plan - Jet Lag saking menghayatinya :D Tryin' to figure out the time zones makin' me crazy. You say good morning when it's midnight ... I miss you so bad, I wanna share your horizon and see the same sunrising. I miss you so bad, turn the hour hand back to when you were holding me. Beberapa hari saya di sini kami mulai mencari cara: meluangkan waktu untuk janjian online, nggak boleh ngilang dan sering-sering kasih kabar melalui media apa pun, mulai dari sms, telepon, blog, facebook, twitter, Y!M, skype, sampai media jadul nan romantis seperti ini ... Supaya nggak bete, lagi-lagi setiap hari saya meyakinkan diri sendiri bahwa: apapun kesusahan dan pengorbanan itu cuma kecil dibandingkan dengan sesuatu yang lebih besar yang sedang sama-sama kami perjuangkan :) Jadi buat kalian yang pengen sekolah jauh tapi enggan meninggalkan pacar, rasanya cinta dan pendidikan itu bukan sesuatu yang saling meniadakan kok. Itu bukan pilihan, kamu bisa dapatkan keduanya! ;) Saya ngomong gini entah deh si pacar setuju atau nggak, lolz ... *** Dedicated to Dhamar Haryadi: (1) teman yang memberi tahu pertama kali tentang adanya kompetiblog ini, (2) tetangga yang meminjami buku Barry Farber yang menjadi referensi pembuatan artikel yang memenangkan saya ke sini, (3) sahabat yang menjadi pembaca pertama ketika artikel tersebut sudah jadi, dan (4) pacar yang mentraktiri kereta Amsterdam--Brussel--Paris--Amsterdam yang akan mulai saya gunakan untuk wira-wiri mulai Sabtu nanti. Dengan kata lain orang yang sudah sangat berjasa membuat perjalanan ke Eropa ini menjadi nyata :) Makasih ya, Tot! :*
Sekian dulu curhatannya, saya mau mbrambangi dulu x') Labels: ~^dhamtje^~, ~^kompetiblog2011^~ |
|
monthly archive |
|
recent entriesFun Facts about Utrecht (1): Rietveld Schröder Hou... Doa Itu Harus Eksplisit Maen ke Leiden Di Belanda dengan Jilbab di Kepala Hura-Hura dengan Makanan Indonesia Beneluxlaan Life Begins at the End of Your Comfort Zone Tanggal Sembilan Bulan Keenam Silam Bike to Eat #1: Mangut Lele Nasi Jaya Jangan Menulis Skripsi, Titish |