Friday, May 22, 2009
Menjangkau Max Havelaar
Polisi: Tuan hakim, itulah orang yang membunuh Babertje.
Hakim: Ia harus digantung. Bagaimana ia melakukan itu?
Polisi: Dicincang-cincangnya lalu digaraminya.
Hakim: Itu kesalahan besar... Ia harus digantung.
Lothario: Tuan hakim, saya tidak membunuh Barbertje; saya memberinya makan, pakaian dan saya urus dia baik-baik... Saya punya saksi-saksi yang bisa menerangkan, bahwa saya orang baik dan bukan pembunuh...
Hakim: Kau harus digantung... Dosamu tambah besar karena kesombonganmu. Tidak pantas orang yang dituduh bersalah, menganggap dirinya baik.
Lothario: Tapi tuan hakim..., ada saksi-saksi yang bisa membuktikan itu; dan karena saya dituduh membunuh...
Hakim: Kau harus digantung. Kau telah mencincang-cincang Barbertje, menggaraminya dan kau puas dengan dirimu sendiri... Tiga kesalahan besar. Siapa kau, hai, perempuan?
Perempuan: Saya Barbertje...
Lothario: Syukur alhamdulillah... Tuan hakim, tuan lihat, saya tidak membunuhnya!
Hakim: Hm... Ya... Begitu... Tapi bagaimana tentang penggaraman?
Barbertje: Tidak, tuan hakim, dia tidak menggarami saya; sebaliknya, dia banyak berjasa kepada saya... Dia seorang manusia yang mulia!
Lothario: Tuan dengar, tuan hakim, katanya saya seorang yang baik...
Hakim: Hm... Jadi, kesalahan ketiga masih tetap ada. Polisi, bawa orang itu; dia harus digantung. Dia bersalah karena congkak...(hlm. xx-xxi)
Max Havelaar tidak hanya mengilhami ditulisnya tetralogi Pulau Buru oleh Pram, tetapi juga garis besar jalan cerita sinetron-sinetron Indonesia :p
selesai meracau : 9:17 AM
0 attention(s)
0 attention(s)



